Sabtu, 02 Oktober 2010

RENUNGAN QOLBU

Bukti Adanya Allah Dapat Dirasa Dengan Nurani

HAL pertama yang akan dilakukan oleh seseorang yang mau mendengar nuraninya adalah mencari jawaban dan menjelajahi hal-hal yang terlihat di sekelilingnya. Sese-orang yang telah mengembangkan kepekaan berpikirnya, akan dengan mudah melihat bahwa dia tinggal di sebuah dunia yang tercipta tanpa cacat, yang ada di tengah-tengah alam semesta yang sempurna.

Mari kita renungkan sejenak lingkungan dan kondisi-kondisi di mana kita tinggal. Kita tinggal di sebuah dunia yang dirancang dan didisain dengan halus dengan segala rincian yang mungkin. Bahkan sistem-sistem di da¬lam tubuh manusia saja begitu amat banyak kesempurnaannya. Sambil membaca buku ini, jantung Anda berdetak secara konstan tanpa henti, kulit Anda melakukan peremajaan sendiri, paru-paru Anda membersihkan udara yang Anda hirup, hati Anda mengalirkan darah Anda, dan jutaan protein disintesakan (dipadukan) ke dalam sel-sel Anda setiap detik dalam rangka menjamin keberlang¬sungan hidup. Manusia tidak menyadari adanya ribuan aktivitas yang berlangsung di dalam dirinya, bahkan tidak menyadari bagai¬mana sebagian aktivitas-aktivitas tersebut terjadi.

Dan jauh di atas sana ada matahari, jutaan kilometer jaraknya dari planet kita, yang memberi cahaya, panas, dan energi yang kita butuhkan. Jarak antara matahari dan bumi dibuat sedemikian rupa sehingga sumber energi ini tidak menghanguskan bumi ataupun membekukannya hingga mati.

Tatkala kita memandang ke langit, kita mempelajari bahwa lepas dari daya tarik estetisnya, massa udara yang menyelubungi bumi juga melindungi manusia dan semua makhluk lainnya dari kemungkinan ancaman-ancaman dari luar. Jika atmosfir tidak ada, maka tak akan ada satu makhluk hidup pun di muka bumi ini.

Seorang manusia, yang mau memikirkan fakta-fakta ini satu demi satu, cepat atau lam-bat akan bertanya bagaimana dirinya dan alam semesta yang ditempatinya ini terjadi dan bagaimana semua ini terpelihara. Tatkala dia mencari tahu tentang hal ini, akan mun¬cullah dua alternatif penjelasan.

Salah satu penjelasan ini mengatakan kepada kita bahwa seluruh alam semesta, planet-planet, bintang-bintang, dan semua makhluk hidup terjadi dengan sendirinya sebagai suatu hasil dari serangkaian peristiwa-peristiwa yang bersifat kebetulan. Dinyatakan bahwa atom-atom yang mengambang dengan bebas, yang merupakan unit-unit terkecil dari materi, secara kebetulan bersatu membentuk sel-sel, manusia-manusia, hewan-hewan, tanaman-tanaman, bintang-bintang, dan semua struktur yang sangat kompleks dan tanpa cacat ini beserta sistem-sistem yang mengelilingi kita dan menakjubkan ini.

Alternatif kedua mengatakan kepada kita bahwa segala hal yang kita lihat diciptakan oleh seorang pencipta yang memiliki kebijaksanaan dan kekuatan yang ulung di atas segala-galanya; bahwa tak ada sesuatu pun yang mungkin terjadi hanya secara kebetulan dan bahwa semua sistem yang ada di sekeli¬ling kita dirancang dan didisain oleh seorang pencipta. Sang pencipta ini adalah Allah.

Kita harus kembali pada nurani untuk memutuskan. Mungkinkah sistem-sistem yang begitu sempurna dan rinci ini dapat terbentuk secara kebetulan namun demikian sempurna harmoninya.

Siapapun yang berpulang ke hati nurani¬nya dapat menangkap bahwa segala sesuatu di alam semesta ini memiliki seorang pencipta, dan sang pencipta ini sangat terpuji kebi-jaksanaannya dan berkuasa atas segala hal. Segala sesuatu di sekeliling kita mengandung tanda-tanda nyata adanya Allah. Keseim-bangan dan keselarasan yang sempurna dari alam semesta ini dan makhluk-makhluk hidup di dalamnya, adalah indikasi yang paling kuat dari adanya suatu pengetahuan tertinggi. Bukti ini terang-benderang, seder-hana, dan tak terbantahkan. Nurani kita tidak punya pilihan kecuali mengakui bahwa semua ini adalah hasil karya Allah, satu-satunya Pencipta.

Akan tetapi, seseorang yang tidak kembali kepada nuraninya sendiri tidak dapat mencapai kesadaran yang sama. Kesadaran ini dicapai melalui kebijaksanaan, dan kebijak¬sanaan adalah sebuah sifat ruhaniah yang hanya muncul manakala seseorang mau men¬dengar nuraninya. Perilaku apa pun yang ditampilkan sesuai dengan nurani membantu membangun dan mengembangkan kebijaksanaan. Dengan demikian, di sinilah perlunya ada perhatian khusus tentang definisi kebijaksanaan. Berlawanan dengan pemakaiannya secara umum, kebijaksanaan adalah sebuah konsep yang berbeda dengan kecerdasan. Seseorang, tidak peduli betapa pun cerdas dan banyak pengetahuannya, akan tetap tidak bijaksana jika dia tidak mau mendengar nura¬ninya, dan tidak dapat melihat atau memahami fakta-fakta yang ditemuinya.

Sebuah contoh dapat menguraikan perbedaan antara kecerdasan dengan kebijaksanaan yang dicapai lewat nurani. Seorang ilmuwan bisa saja menempuh penelitian yang sangat rinci tentang sel selama bertahun-tahun. Bah¬kan bisa saja dia adalah orang paling ahli di bidangnya. Walaupun demikian, jika kebijak-sanaan dan nuraninya kurang, dia hanya dapat menguasai potongan-potongan pengeta¬huan saja. Dia tidak akan mampu menyusun potongan-potongan ini menjadi satu tubuh yang utuh. Dengan kata lain, dia tidak akan dapat menarik sebuah kesimpulan yang tepat dari isi informasi ini.

Namun, bagi seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan nurani, merasakan adanya aspek-aspek yang menakjubkan dan kesem-purnaan dari detail sebuah sel, dan mengakui adanya tangan seorang pencipta, seorang di-sainer dengan kebijaksanaan yang ulung. Jika seseorang berpikir dengan menggunakan nuraninya dia akan sampai pada kesimpulan ini: kekuasaan yang menciptakan sebuah sel dengan kesempurnaan yang sedemikian itu tentulah pencipta dari semua makhluk hidup dan makhluk tak hidup lainnya.

Di dalam al-Quran ada contoh dari Nabi Ibrahim a.s., yang menemukan adanya Allah dengan mendengar nuraninya:

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, Inilah Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, Aku tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata, Inilah Tuhanku. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata, Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, .Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, Hai kaumku, sesungguhnya aku cuci tangan dari apa yang kalian persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah... (Q.s. al-An.am: 76-9).

Bagaimana Nabi Ibrahim a.s. dulu menemukan adanya Allah melalui kebijaksanaan dapat terlihat dalam ayat-ayat di atas. Melalui nuraninya, dia menyadari bahwa semua hal yang terlihat di sekelilingnya hanyalah makhluk-makhluk yang diciptakan, dan bahwa Sang Pencipta jauh lebih unggul dari makhluk-makhluk itu. Siapa pun yang berpulang ke nuraninya akan melihat fakta ini bahkan jika tidak ada seorang pun yang memberi¬tahunya. Setiap orang yang berpikir dengan tulus, tanpa melibatkan hawa nafsunya, dan hanya menerapkan nuraninya saja, dapat memahami keberadaan dan keagungan Allah. Jika seseorang tidak mau melihat fakta-fakta yang gamblang di depan matanya ini, dan bertingkah seakan-akan fakta-fakta tadi tidak ada, maka orang ini akan menjadi hina meskipun dia cerdas. Alasan mengapa seseorang yang mengetahui kebenaran dengan nuraninya namun tidak mau menerimanya adalah karena fakta ini bertentangan dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Pengakuan seseorang atas adanya Allah berarti pengaku-annya bahwa dirinya berada jauh di bawah keunggulan yang kepada-Nya dia harus berserah diri, yang kepada-Nya dia sangat mem-butuhkan, dan yang kepada-Nya dia kelak akan ditanyai.

Tanda-tanda adanya Allah sangat jelas dan tampak bagi siapa saja yang mau melihatnya. Ini adalah sebuah bukti kebenaran bahwa Pencipta dari disain yang berlaku di seluruh alam semesta ini adalah Allah. Sebagian orang yang menolak adanya Allah berbuat demikian bukan karena mereka sungguh-sungguh tidak mempercayai-Nya namun karena mereka ingin menghindar dari aturan moral yang harus mereka taati sebagai orang-orang yang beriman. Setiap orang dengan nuraninya mengetahui eksistensi dan kekuasaan abadi Allah. Kendati demikian, seseorang yang mengakui adanya Allah dan merasakan kekuasaan-Nya, juga tahu bahwa dirinya kelak akan ditanyai oleh-Nya, dan bahwa dia harus mematuhi hukum-hukum-Nya dan hidup untuk-Nya. Sedangkan orang yang berkeras untuk menolak sekalipun dia sudah mengetahui fakta-fakta ini, berbuat demikian karena bila dia menerima fakta yang sangat besar ini tidak sesuai dengan kepentingan-kepentingannya dan perasaan superioritas yang ada di dalam dirinya. Di dalam al¬Qur.an orang-orang ini digambarkan di dalam Surat an-Naml:

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) pada-hal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.." (Q.s. an-Naml, 14).

 

KETIKA JIWA-JIWA DAN MALAIKAT MENANGIS

"Dalam memahami firman Allah, Abu Bakar al-Shiddiq berkata, "Yang dimaksud dengan al-barru adalah lisan sedangkan yang dimaksud dengan al-bahru adalah kalbu. Jiwa-jiwa akan menangis jika lisan seseorang rusak dan Malaikat akan menangis jika kalbu seseorang rusak " (Abu Bakar al-Shiddiq Ra)

‘Umar RA berkata, “Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah Munafiq ‘Alim (yang berpengetahuan).” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin, seorang munafik memiliki sifat ‘alim.?” Ia menjawab, “Ia berbicara dengan penuh hikmah namun melakukan kezhaliman atau kemungkaran.”


Pada umumnya, apa yang keluar dari tubuh manusia adalah sesuatu yang berbau tidak sedap. Mulai dari bau keringat, bau mulut, hingga bau yang satu itu. Hanya beberapa organ tertentu saja yang masih memungkinkan mengeluarkan keharuman. Lisan dengan kata-katanya yang indah, bermakna, dan menyejukkan, akal dengan gagasan-gagasannya yang baik dan bermanfaat, atau hati (qalb dalam bahasa Arab) seseorang dengan niat tulusnya yang melahirkan amal-amal shalih. Apabila lisan, akal, dan hati seseorang tidak bisa mengeluarkan yang baik, maka dapat dipastikan seluruh tubuhnya hanya akan memproduksi bau busuk.

Kenyataannya, apa yang keluar dari akal, lisan, dan hati manusia memiliki implikasi yang sangat luas terhadap dirinya dan orang lain. Rasulullah Saw melukiskan lisan dan hati sebagai kekayaan yang sangat berharga. ”Abdu bin Humaid menceriterakan ketika ayaat 34 surat al-Taubbah (”dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak”) turun kami sedang dalam suatu perjalanan. Kemudian beberapa orang sahabat berkata, ”Ayat tersebut turun berkenaan dengan emas dan perak. Seandainya kami tahu harta yang paling baik, tentu kami akan menyimpannya.” Rasulullah Saw kemudian bersabda, ”Harta yang paling baik adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan isteri yang beriman yang membantu suaminya dalam merealisasikan keimanannya” (HR, al-Tirmidzi).

Tentu saja kenyataan itu harus benar-benar disadari oleh setiap insan. Agaknya ungkapan Sayyidina Abu Bakar tersebut merefleksikan orang yang memiliki kesadaran tinggi tentang implikasi gerak dua komponen diri manusia tersebut (lisan dan hati).

Tak dapat dipungkiri, lidah adalah karunia Allah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Siapa pun pasti akan mengalami kesukaran untuk berkomunikasi dan menyampaikan gagasan-gagasan, bahkan keinginannya, kepada orang lain, tanpa melalui lisan. Barangkali lisan termasuk organ tubuh paling utama yang sering beraktivitas dalam keseharian kita. Bahkan dalam banyak hal, apa yang meluncur dari lisan menjadi ukuran kualitas seseorang. “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (HR, Bukhari).

Dari lisan meluncur apa yang disebut ”kata”. Di sini penstrukturan tanda atau bunyi menyimpan makna yang sangat penting dalam proses komunikasi. Dengan ”kata”, sebuah tanda atau artikulasi diri dapat dipahami oleh orang lain. Tanpa ”kata” yang meluncur dari lisan nyaris seseorang tidak dapat merealisasikan keinginan-keinginannya yang paling fundamental sekalipun yang karenanya ia akan teralienasi dari lingkungan otentiknya. Oleh sebab itu posisi lisan dalam aktivitas kemanusiaan memiliki nilai sangat strategis.

Nilai strategis lisan dalam kehidupan manusia tampak pada ungkapan Rasulullah Saw ketika beliau menjawab pertanyaan Uqbah bin Amir. Dalam satu riwayat Uqbah berkata, ”Aku bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, ”Wahai Rasulullah Saw, apakah jalan keselamatan? Beliau menjawab, ”Tahanlah lidahmu, perluaslah rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.” (HR, al-Tirmidzi).

”Kata” yang meluncur dari lisan seseorang, implikasi dan pengaruhnya bisa melebihi kapasitas dirinya dan zamannya. Akan menggema dan dapat memantul di semua benua. Banyak ungkapan yang lahir dari lisan seseorang memiliki nilai abadi.

Pada kenyataannya, sebuah keyakinan, gagasan, atau doktrin hanya dapat dipahami melalui rangkaian kata-kata yang pada mulanya meluncur dari lisan. Bahkan sebuah arketip atau pola yang diteladani dapat dipahami oleh manusia pada awalnya melalui kata-kata. Oleh sebab itu nilai strategis lisan dalam kehidupan manusia tak dapat diingkari oleh siapa pun. Dalam sebuah hadits dikatakan, ”Tiada satu pun dari jasad manusia melainkan akan mengadukan lidah kepada Allah Swt atas ketajamannya.” (HR, Abu Dunia).

Aktivitas lisan bisa berefek ganda dan luar biasa pengaruhnya terhadap tata hubungan manusia. Terkadang ia dapat meluncurkan sejumlah kebaikan dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari'at. Sebaliknya, lisan juga dapat meluncurkan sejumlah kejelekan yang membahayakan dirinya dan orang lain bagi siapa yang menggunakannya secara sembarangan. “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR, Bukhari)

Bahaya lisan yang tidak dikendalikan oleh norma dan tuntunan syari'at bisa menyeret seseorang ke jurang kebinasaan. Untuk itu Rasulullah Saw menasehati agar menjaga lidah dengan baik. Ia menganjurkan untuk bisa diam ketika tidak bisa bicara baik. "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka berkatalah yang baik, atau (jika tidak), diamlah ". (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu menebas leher siapa pun, maka dimensi daya hancurnya kepada kehidupan sangat luas. Rasulullah Saw bersabda:"Tidak ada satupun jasad manusia, kecuali pasti kelak akan mengadukan lidah kepada Allah atas ketajamannya".(HR, Ibnu Abi Dunya). Bahkan dosa bisa membiak dari lisan. "Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya" (HR. Al- Thabrani, Ibnu Abi Dunya, dan Al Baihaqi).

Atas dasar itu kita dapat memahami nilai keutamaan menjaga lidah yang diajarkan oleh Islam. Imam Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin mengatakan, "Ketahuilah bahwa lidah bahayanya sangat besar, sedikit orang yang selamat darinya, kecuali dengan banyak diam ". Luqman al-Hakim berkata: "Diam itu adalah kebijakan, namun sedikit sekali orang yang melakukannya". Rasulullah Saw bersabda, "Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan, karena dengan demikian kamu dapat mengalahkan syaitan " (HR, al-Thabarani dan Ibnu Hibban).

Ketika lisan mengalami kerusakan, maka akibat pastinya adalah meluncurnya produk lisan yang membahayakan orisinalitas jiwa manusia. Baik jiwa orang yang mengeluarkannya atau pun jiwa yang menangkapnya. Selanjutnya, kesadaran azali kita, seperti ketika kita di tanya oleh Sang Pencipta di alam azali, “Apakah aku Rabb kalian?” dan kita menjawab, “Benar”, akan menjadi rusak pula karena diperkosa oleh berbagai produk lisan yang menggencetnya. Akibatnya jiwa pun menangis karenanya. Sebab jiwa pada dasarnya/secara orisinil senantiasa cenderung mencari ketenangan, rasa nyaman dan kepuasan.

Kecenderungan itu akan menuntut pencarian pada segala sesuatu di luar dirinya yang mampu menjaga dan berkesesuaian dengan orisinalitas jiwa. Oleh karena itu, jiwa-jiwa pun akan menjerit bila dibombardir oleh produk lisan yang buruk sebab hal itu sangat bertentangan dengan kecenderungannya. Jika interaksi jiwa dengan produk lisan yang buruk berlangsung secara terus menerus, maka orisinalitas jiwa akan tergerus sedikit demi sedikit yang pada akhirnya akan melahirkan insensifitas yang mengancam keselamatannya. Lebih parah jika sampai pada tingkat kesadaran azalinya terbenam oleh ingar-bingar produk lisan.

Selain lisan, hati adalah komponen penting lain, yang posisinya sangat menentukan perjalanan hidup manusia. Lathifah rabbaniyyah, yang amat halus dan lembut; yang tidak kesatmata, tak berupa, dan tak dapat diraba; yang bersifat Rabbani dan ruhani ini, pada hakikatnya merupakan inti manusia. Dalam bahasa Arab, makna literal qalb adalah ”berbalik” atau ”berputar balik”. Allah-lah yang membulak-balikkan hati manusia. Dalam sebuah doa dikatakan ”ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ’ala dinik.”

Hati laksana sebuah radar yang terus-menerus berputar dan mengamati secara sepintas. Ia selalu mencari yang suci. Hati adalah cermin yang dapat memantulkan cahaya Ilahiah. Imam Ghazali mengatakan, ”Wahai teman! Hatimu adalah cermin yang mengkilap. Kau harus membersihkan debu yang mengotorinya, karena hati ditakdirkan untuk memantulkan rahasia-rahasia Ilahi. Oleh karena itu hati merupakan potensi utama yang dianugerahkan kepada manusia. Oleh Allah Swt, hati diberi kemampuan untuk menyerap, menghayati, memahami, dan mengenal segala sesuatu yang diinderai dan dipercayainya demi kemajuan eksistensinya. Hati adalah medium kemajuan spiritualitas manusia.

Oleh karena itu kemajuan kemanusiaan tidak hanya ada pada otak semata, melainkan ada kekuatan lain yang lebih dahsyat dari kekuatan otak, akal, dan pikiran, yaitu kekuatan hati. Sebab, kekuatan ini bukan hanya mengantarkan manusia meraih sukses namun juga mampu mengantarkan pada kemuliaan hidup dan kemajuan psiritualnya yang menentukan kualitas dirinya. Dalam kajian sufi, hati dilukiskan sebagai raja yang mengatur dan memerintahkan otak, pikiran dan panca indra manusia.

Allah Swt mengajarkan kepada manusia agar selalu mendengarkan suara hati nuraninya dan karena itu kewajiban kita untuk memelihara kejernihannya. Sebab dengan kejernihan hati diharapkan sifat-sifat mulia yang tertanam di dalamnya dapat memancar ke prilaku lahiriah.

Sesungguhnya di dalam hati manusia sudah tertanam percikan sifat-sifat “Illahiah”, sifat-sifat maha mulia Allah Swt, telah bersemayam. Dapat dikatakan, semua yang hak, terindah, dan terbaik bersarang di dalamnya. Melalui pemeliharaan yang serius hati manusia bisa terang benderang, bercahaya dengan cahaya dari sifat-sifat-Nya Yang Maha Mulia, Yang Maha Agung, dan Maha sempurna. Medium pemeliharaaan yang paling efektif adalah dengan makrifat, yakni ilmu-ilmu yang berakar pada tauhid, mengesakan Allah Swt.

Selanjutnya dengan makrifat yang terus mekar di hati, cahaya kebesaran Allah, keindahan, dan keagunganNya akan terus memancar. Kesadaran batinnya tentang yang benar dan salah akan selalu hidup. Dengan cahaya itu ia dapat menagkap kemahamuliaan Allah Swt, mengambil dan mengamalkan segala kehendak-Nya, dan melakukan segala sesuatu yang membawa manfaat, serta menjauhi sejauh-jauhnya segala yang membawa madarat. Memang hati menjadi pusat kebaikan, ketenangan, kedamaian, kesehatan, dan kebahagiaan hakiki.

Hati yang jernih dan sehat melahirkan pikiran-pikiran yang jernih dan pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan mulia berdasarkan suara hati nurani yang bening. Socrates mengidentikkan suara hati dengan suara peringatan batin yang diaanggapnya berasal dari Allah. Filosof lain menyebutnya sebagai percikan ilahi yang mampu menyediakan pedoman dalam kehidupan.

Kejernihan hati dapat menjadikan manusia menjadi mampu berpikir positif, betindak bijak, cerdas, dan berbagai sifat-sifat mulia. Dengan hati yang jernih, kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih
produktif untuk meraih kemuliaan hakiki. Sebab, seperti dikemukakan para pemikir, manusia yang suara hatinya jernih karena berada dalam wadah hati yang jernih merupakan fakultas akal yang mampu membedakan yang benar dan yang salah.

Akan tetapi hati tidak akan dapat dijernihkan dengan cahaya ilahiah jika ia teralingi oleh nafsu duniawi dan ternodai oleh maksiat. Kecerahannya ditentukan oleh ketulusannya dalam mempersembahkan dirinya kepada Allah yang merupakan tujuan awal bagi manusia dan kesaksian zalinya.

Ibnu ’Atha`illah dalam al-Hikam mengattakan, ”Bagaimana hati dapat bersinar sementara bayang-bayang dunia terlukis dalam cerminnya? Atau, bagaimana hati dapat berangkat menuju Allah sedangkan ia masih terbelenggu oleh syahwatnya? Atau, bagaimana hati akan antusias menghadap hadirat-Nya jika ia belum suci dari ”janabah” kelalaiannya? Atau, bagaimana hati mampu memahami kedalaman rahasia-rahasia sedangkan ia belum bertaubat dari kesalahannya?.

Lebih dari itu hati adalah kunci hubungan manusia dengan Tuhannya dikarenakan ia tempat bersemayamnya iman. Hati juga menjadi kunci hubungan dengan sesama manusia. Bahkan ia adalah sumber kesehatan fisik, kekuatan mental, dan kecerdasan emosional. Dalam kajian sufi hati menyimpan kecerdasan dan sekaligus kearifan yang terdalam bagi manusia. Ia adalah lokus makrifat, genosis, atau pengetahuan spiritual. Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda, ”Sesungguhnya hati seorang mukmin mampu memuat segala sesuatu yang tidaka dapat dimuat oleh langit dan bumi.”

Oleh sebab posisi hati adalah terminal yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesamanya, dan alam, maka kejernihan hati dapat menjadikan hubungan itu sehat, baik, dan konstruktif. Hubungan dengan Tuhannya akan penuh ketundukan dan kecintaan. Hubungan dengan sesamanya akan mengedepankan kasih sayang, kejujuran, kebersamaan dan saling menghormati sehingga menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Hubungan dengan alam dan lingkungannya dengan etik yang menyebabkan tidak menimbulkan kerusakan.

Begitulah posisi strategis hati sangat menentukan kemanausiaan seseorang. Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur Rasulullah Saw bersabda, "Ingatlah sesungguhnya pada jasad itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh jasad. Ingatlah, ia adalah hati."

Oleh sebab itu jika hati rusak maka seluruh tata hubungan menjadi rusak pula yang menyebabkan malaikat pun menangis. Dalam kitab al-Tadzkirah fi Ahwal al-Maut wa Umur al-Akhirah, Imam al-Qurthubi mengutip sebuah riwayat dari Imam al-Zuhri, Wahab bin Munabbih, dan lain-lainnya. Dalam riwayat itu diceritakan bahwa ketika itu Allah mengutus malaikat Jibril untuk membawakan tanah kepada – Nya.
Ketika diambil oleh Jibril, tanah memohon perlindungan kepada Allah dari Jibril, sehingga Jibril tidak jadi membawanya. Hal yang sama juga terjadi pada Malaikat kedua yang diutus. Akan tetapi, tidak demikian halnya pada malaikat yang ketiga. Ia justru berhasil membawakan tanah kepada Allah swt. Lalu Allah bertanya kepadanya, ”Apakah tanah itu tidak memohon perlindungan kepada- Ku dari kamu ?” Malaikat menjawab, ”Ya”. Allah bertanya lagi, ” Kenapa kamu tidak merasa kasihan kepadanya, seperti kedua tanganmu?”. Malaikat menjawab, ”Aku lebih mengutamakan taat kepada Engkau dari pada mengasihaninya (tanah)”. Allah berfirman, ”Pergilah! Kamu adalah malaikat maut, yang aku beri kuasa untuk mencabut nyawa seluruh makhluk ”. Mendengar itu, malaikat menangis. Kemudian Allah bertanya lagi, ”Kenapa kamu menangis?” Malaikat pun menjawab : ” Ya Tuhan, dari tanah ini Engkau ciptakan para nabi dan makhluk pilihan lainnya. Dan, Engkau tidak menciptakan makhluk yang lebih mereka benci daripada kematian. Jika mereka mengenali aku, mereka pasti membenci dan mencaci maki aku”. Wallahu A’lam

Berhentilah menyesali...

Berhentilah menyesali apa yang anda dapat dalam hidup anda bila tidak sesuai dengan apa yang anda inginkan. Secara filosofis hal itu adalah hal yang paling penting dalam anda mendapat kebahagian dalam hidup yang anda jalani, karena kita akan merasa tertekan bila apa yang telah kita miliki dalam hidup tidak sesuai dengan harapan atau cita-cita kita.

Percaya atau tidak, kebiasaan tidak pernah bersyukur atas apa yang kita miliki atau kita dapatkan adalah sebuah kebiasaan buruk yang telah menjadi kebiasaan dari kita. Seringkali kita sulit mendapatkan kebahagian dalam hidup, karena selalu merasa tidak beruntung, walau sebenarnya tidak kita sadari bahwa kita telah memiliki banyak hal dalam hidup kita. Ketika kita mendapat sesuatu mimpi atau keinginan, sebagai manusia pasti kita akan tergoda, atau tersirat dalam benak kita bahwa yang kita dapat terkadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Jauh didalam hati kita berharap bisa mendapat sesuatu yang lebih baik lagi.

Tanyakan pada diri kita secara terbuka, pasti kita pernah mengalami perasan seperti ini, karena hampir semua orang pernah mengalaminya. permasalahanya adalah ketika terjadi gap/perbedaan antara apa yang kita miliki dan apa yang kita inginkan, kita menjadi tidak puas atau bahkan bisa mengarah ke frustasi. Hal ini berlaku dalam hubungan kita dan dalam semua aspek dalam kehidupan kita.

Kunci kebahagiaan adalah dengan melihat atau menyadari tentang gap yang terjadi antara apa yang kita miliki dan apa yang kita inginkan. Cobalah sedikit luangkan waktu untuk bertanya pada diri anda sendiri apa yang sebenarnya kita harapkan, dan tanyakan juga apakah kalau kita sudah memiliki yang kita inginkan itu lalu kita akan puas. Apa bedanya sesuatu yang kita miliki dengan apa yang kita inginkan? Cobalah nikmati dan syukuri apa yang anda miliki saat ini, dan anda akan menemukan sesuatu yang membuat anda bahagia!

Yakinlah bahwa apa yang kita miliki adalah sesuatu yang terbaik. Cobalah lihat sekeliling anda, mungkin ada banyak orang yang sebenarnya masih mengejar apa yang anda miliki, dan banyak orang yang menginginkan apa yang anda miliki. Jangan pula menyesali ketika apa yang kita miliki seperti keluarga, pekerjaan, bisnis, pendidikan, atau pun benda lain yang telah kita miliki itu hilang atau raib. Jangan jadi orang yang menyesal ketika kita kehilangan yang kita miliki, karena kita tidak pernah mensyukuri dan menikmati apa yang kita miliki ketika terlalu terbuai dengan apa yang diinginkan.

"Syukuri, nikmati, dan jaga apa yang anda dapat dan miliki saat ini, karena anda akan merasakan penyesalan ketika sesuatu yang kita miliki itu hilang "

"Dengan bersyukur sesuatu yang kecil akan bernilai luar biasa"

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur."

Hati yang Ikhlas....

Orang yang ikhlas adalah manusia yang dilindungi oleh Allah dari penyakit hati tersebut. Rasulullah memberi peringatan kepada umat Islam agar menjauhi hal-hal yang bisa menodai dan mengikis sifat keikhlasan kepada Allah seperti sombong. Sabda Rasulullah SAW: ''Sedikit dari sifat riya itu adalah syirik.Maka, barang siapa yang memusuhi wali-wali Allah niscaya sesungguhnya dia telah memusuhi Allah. Sesungguhnya Allah sangat mengasihi orang yang berbakti dan bertakwa serta yang tidak diketahui orang lain tentang dirinya. Jika mereka tidak ada dan hilang dalam acara apapun, mereka tidak dicari oleh orang lain, dan kalau mereka hadir di situ mereka tidak begitu dikenali oleh orang lain. Hati nurani mereka umpama lampu petunjuk yang akan menyinari mereka hingga mereka keluar dari tempat yang gelap gelita.'' (Hadis riwayat Hakim)

Itulah harapan dan impian mereka dengan pengabdian yang penuh tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah. Allah berfirman, ''Katakanlah: sesungguhnya solatku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mengatur seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah aku diperintahkan dan aku (di antara seluruh umatku) adalah orang yang pertama Islam (yang berserah diri kepada Allah dan mematuhi perintah-Nya).'' (QS al-An'am, ayat 162 - 163).

Imam al-Ghazali menyatakan, semua manusia sebenarnya celaka, kecuali yang berilmu. Ilmuwan juga celaka, kecuali yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Yang disebutkan terakhir ini pun celaka, kecuali yang menghiasi diri mereka dengan sifat ikhlas. Ringkasnya, selama seorang Muslim itu menyerahkan dirinya sepenuh hati kepada Allah dengan penuh keikhlasan, maka selama itulah segala gerak gerik dan diamnya, tidur dan jaganya akan dinilai sebagai satu langkah ikhlas dan tulus menuju keridaan Allah.

Tiga ciri ikhlas
Seorang yang ikhlas memiliki ciri tersendiri sehingga menjadi lambang keperibadiannya:
Pertama, tidak terpengaruh atau termakan oleh pujian dan cercaan orang lain. Bagi mereka segala pujian yang indah atau cercaan yang buruk adalah sama nilainya.
Kedua, tidak mengharapkan balasan atau ganjaran dari amal kebajikan yang pernah dilakukan, tetapi dia hanya mengharapkan keridaan Ilahi.
Rasulullah SAW bersabda: ''Pada hari kiamat nanti, dunia akan dibawa, kemudian dipisah-pisahkan, apa yang dikerjakan karena Allah dan apa yang dilakukan bukan karena Allah, lalu dicampakkan ke dalam api neraka.'' (Hadits riwayat Baihaqi)
Ketiga, orang yang tidak pernah mengungkit-ungkit kembali segala kebaikan yang pernah dilakukan. Artinya, orang yang selalu menyebut tentang kebaikan yang pernah dilakukan, apalagi menghina dan memburuk-burukkan orang yang pernah diberikan bantuan, maka sesungguhnya dia sangat jauh dari golongan orang yang ikhlas. Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita agar bersedekah secara diam-diam, jauh dari penglihatan orang banyak. Umpama tangan kanan memberi sedangkan tangan kiri tidak mengetahuinya. Sabda Rasulullah SAW: ''Bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kamu, tetapi Dia hanya melihat kepada hati kamu.'' (Hadits riwayat Muslim)

IQRO : Bisikan Allah, Bisikan Malaikat, Bisikan Nafsu, Bisikan Syetan

Bisikan Allah, Bisikan Malaikat, Bisikan Nafsu, Bisikan Syetan

Imam Al-Ghazali dalam Tulisan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazaly dari kitab Roudlotut Tholibin wa-‘Umdatus Salikin, ini kami turunkan karena banyaknya pertanyaan dari pembaca soal cara membedakan bisikan-bisikan dari dalam hati, apakah dari Allah, nafsu atau syetan. Red.)

Kajian ini seputar bisikan-bisikan hati (khawathir) dengan segala bentuknya, upaya memerangi, mengalahkan dan unggul dalam menghalau perbuatan syetan yang jahat. Juga tentang berlindung kepada Allah dari syetan dengan tiga cara:

Pertama, harus mengetahui godaan, rekayasa dan tipuan syetan.
Kedua, hendaknya tidak menanggapi ajakannya, sehingga qalbu anda tidak bergantung dengan ajakan itu.
Ketiga, langgengkan dzikrullah dalam qalbu dan lisan.

Sebab dzikrullah bagi syetan seperti penyakit yang menyerang manusia.

Untuk mengetahui rekayasa godaan syetan, akan tampak pada bisikan-bisikan (khawathir) dan berbagai macam caranya. Mengenai pengetahuan tentang berbagai macam bisikan hati, patut diketahui, bahwa bisikan-bisikan itu adalah pengaruh yang muncul di dalam qalbu hamba yang menjadi pendorong untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, proses yang sepenuhnya terjadi di dalam qalbu ini berasal dari Allah - yang menjadi Pencipta segala sesuatu.

Dalam kaitan ini, bisikan hati ada empat macam:

Suatu bisikan yang datang dari Allah swt. dalam qalbu hamba adalah sebagai bisikan awal, sehingga Dia disebut dengan Nama al-Khathir (Sang Pembisik).
Bisikan yang relevan dengan watak alam manusia, yang disebutan-nafs (jiwa).
Bisikan yang terdorong oleh ajakan syetan, yang disebut waswas (perasaan ragu-ragu).
Bisikan yang juga datang dari Allah yang disebut al-Ilham.
Al-Khathir adalah bisikan yang datang dari Allah swt. sebagai bisikan awal, terkadang berdimensi kebaikan, kemuliaan dan pemantapan dalam berhujjah. Kadang-kadang berdimensi negatif dan sebagai ujian.
Al-Khathir yang datang dari pemberi Ilham tidak akan terjadi, kecuali mengandung kebajikan, karena Dia adalah Yang Memberi nasihat dan bimbingan. Sedangkan al-Khathir yang datang dari syetan, tidak datang kecuali mengandung elemen kejahatan.

Bisikan ini terkadang sepintas mengandung kebajikan, tetapi dibalik itu ada makar dan istidraj (covernya nikmat, dalamnya siksa bencana).
Sementara bisikan yang tumbuh dari hawa nafsu tidak luput dari elemen kejahatannya. Terkadang juga ada elemen baik tidak sekadar untuk pencapaian kenikmatan saja.

Ada tiga persoalan yang harus ketahui di sini:

Pertama-tama, beberapa ulama berkata bahwa jika ingin mengenal dan mengetahui perbedaan antara bisikan kebaikan dan bisikan kejahatan, maka pertimbangkan dengan tiga ukuran nilai (mawazin), yang dapat mendeteksinya:
Apabila bisikan itu relevan dengan syariat, berarti baik. Jika sebaliknya - baik karena rukhshah atau syubhat, maka tergolong bisikan jahat.

Manakala dengan mizan(ukuran nilai) itu tidak diperoleh kejelasan perbedaan masing-masing, sebaiknya konfirmasikan dengan teladan orang-orang saleh. Jika sesuai dengan teladan mereka, maka ikutilah, jika tidak ada kebaikan, berarti hanya suatu keburukan.

Apabila dengan ukuran nilai (miizan) demikian masih belum menemukan kejelasan, konfrontasikan dengan motivasi yang terdapat pada nafs (ego) dan hawa (kesenangan). Jika ukuran nilainya merujuk sekadar pada kecenderungan nafs (ego) yakni kecenderungan naluriah dan bukan untuk mencari harapan (raja’) dari Allah, tentu saja termasuk keburukan.

Kedua, apabila ingin membedakan antara bisikan kejahatan yang bermula dari sisi syetan, atau dari sisi nafs (ego) ataukah bisikan itu dari sisi Allah swt., perlu anda perhatikan tiga hal ini:
Jika anda menemui bisikan yang kokoh, permanen, sekaligus konsisten pada satu hal, maka bisikan itu datang dari Allah swt., atau dari nafs (jika menjauhkan diri dari Allah). Namun jika bisikan itu menciptakan keraguan dan mengganjal dalam hati , maka itu muncul dari syetan.

Apabila bisikan itu jumpai setelah melakukan dosa, berarti itu datang dari Allah sebagai bentuk sanksi dari-Nya kepada anda. Jika bukan muncul dari akibat dosa, bisikan itu datang dari diri anda, yang berarti dari syetan.
Jika anda temui bisikan itu tidak melemahkan atau tidak mengurangi dari dzikir kepada Allah swt., tetapi bisikan itu tidak pernah berhenti, berarti dari hawa nafsu. Sebaliknya, jika melemahkan dzikir berarti dari syetan.

Ketiga, apabila ingin membedakan apakah bisikan kebaikan itu datang dari Allah swt. atau dari malaikat, maka perlu diperhatikan tiga hal pula:

Manakala melintas sekejap saja, maka datang dari Allah swt. Namun jika berulang-ulang, berarti datang dari malaikat, karena kedudukannya sebagai penasihat manusia.

Manakala bisikan itu muncul setelah usaha yang sungguh-sungguh dan ibadah yang lakukan, berarti datang dari Allah swt. Jika bukan demikian,bisikan itu datang dari malaikat.
Apabila bisikan itu berkenaan dengan masalah dasar dan amal batin, bisikan itu datang dari Allah swt. Tetapi jika berkaitan dengan masalah furu` dan amal-amal lahiriah, sebagian besarnya dari malaikat. Sebab, menurut mayoritas ahli tasawuf malaikat tidak memiliki kemampuan untuk mengenal batin hamba Allah.

Sementara itu, bisikan untuk suatu kebaikan yang datang dari syetan, merupakan istidraj menuju amal kejahatan yang lantas menjadi berlipat-lipat, maka perlu memperhatikan dengan cermat:

Lihatlah, apabila dalam diri anda, pada salah satu perbuatan jika berasal dari bisikan di dalam hati dengan penuh kegairahan tanpa disertai rasa takut, dengan ketergesa-gesaan bukan dengan waspada dengan tanpa perasaan aman, ketakutan pada Allah, dengan bersikap buta terhadap dampak akhirnya, bukan dengan mata batin, ketahuilah bahwa bisikan itu berasal dari syetan. Maka jauhilah, Bisikan seperti itu, harus jauhi.

Sebaliknya jika bisikan itu muncul bukan seperti bisikan-bisikan di atas, berarti : datang dari Allah swt., atau dari malaikat.

Saya katakan, bahwa semangat yang membara dapat mendorong manusia untuk segera melakukan aktivitas, tanpa adanya pertimbangan dari mata hatinya, tanpa mengingat pahala bisa menjadi faktor yang membangkitkan kondisi itu semua.
Sedangkan cara hati-hati adalah cara-cara yang terpuji dalam beberapa segi.

Khauf, lebih cenderung seseorang untuk berusaha menyempurnakan dan mempraktekkan suatu perbuatan yang benar dan bisa diterima Allah atas amal perbuatan itu.

Adapun perspektif hasil akhir suatu amal, hendaknya membuka mata hati dengan cermat dalam diri ada keyakinan bahwa amal tersebut adalah amalan yang lurus dan baik, atau adanya pandangan mengharapkan pahala di akhirat kelak. Ketiga kategori di atas harus ketahui dan sekaligus anda jaga. Sebab, semuanya mengandung ilmu-ilmu yang rumit sehingga sulit didapatkan dan rahasia-rahasia yang mulia.
IQRO....

 

Pintu Nafs

 

 Setelah Iblis menguasai manusia secara ruhani, ia disebut Setan. Iblis, semula tidak tahu bagaimana ia dapat menggoda Adam . Namun setelah Hawa diciptakan, Iblis kemudian berspekulasi dengan menggunakan muslihat dengan menggunakan minat Adam pada Hawa pada kecantikan dan kebendaannya.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(QS 3:14)

Sebuah pintu terbuka. Itulah pintu nafs yang muncul setelah ruh suci ditiupkan ke dalam jasad biologis Adam.

Karena esensi Iblis & Jin dari api, maka ia hanya bisa menyusup ke esensi manusia yang halus yakni nafs yang banyak berurusan dengan badan, kepemilikan, kebodohan, cinta/kebencian, dll. Targetnya menguasai akal manusia (sesuatu yang tidak dimilikinya) dengan menguatkan daya khayal dan angan-angan (ilusi dan delusi) pada MATERI dan menguatkan RASA TAKUT PADA KETERBATASAN FISIK MANUSIA (UNSUR ASAL MATERINYA) seperti kemiskinan, takut tidak mendapat jabatan, dan lain-lain. Jadi Iblis sebenarnya menggunakan pemahaman dasarnya yang menjadikannya sombong bahwa “ia dari api bukan tanah” – ia menggunakan perbandingan yang bersifat keduniawian dan materialistik.

Akal dan pikiran adalah potensi strategis manusia yang dinisbahkan oleh Allah SWT untuk membedakannya dengan makhluk lainya. Manusia adalah citra kesempurnaan-Nya, maka dengan akal dan pikirannya, manusia semestinya (bahkan menjadi fitrahnya) untuk mampu mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Iblis baru tahu hal ini kemudian manakala Adam menguasai asmaa-kullahaa (QS 2:31-33). Jadi ia harus menguasai akal dan pikiran manusia melalui nafs yang paling rentan, yaitu melalui daya khayal dan angan-angan yang secara inheren sebenarnya ada di dalam setiap manusia. Ketika ia mengintip firman Tuhan,

Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.(QS 2:35).

“Jangan dekati pohon itu…” menyiratkan makna perintah dan larangan Allah, menyiratkan peribadahan manusia, ia mengetahui suatu celah untuk mempengaruhi Adam dan Hawa. Dan nafs adalah pintu masuknya. Dari nafs ia merasakan esensi dirinya, api yang membakar. Dengan menguasai potensi khayal dan angan-angan ia berharap lebih jauh lagi untuk berusaha menunggangi pengetahuan manusia. Maka, setiap manusia yang dikuasai nafs ammarah, esensi keapiannya, dilamarnya dengan maskawin kesombongan & ketakaburan (kebodohan) dan iri & dengki (kebencian).

Setelah akal terkuasai, aneksasi Iblis terhadap Jiwa atau nafs manusia melahirkan Setan yang mempunyai modus operasi canggih dengan menjadi pembisik di hati manusia yaitu was-was dihati (QS 114:4-5). Maka, secara jasmani Iblis maujud di alam nyata sebagai Setan yang dapat muncul dari golongan manusia dan jin (QS 6:112). Dengan kata lain, muncul manusia dengan sifat-sifat yang satanik alias Dajjal yang matahatinya buta. Ia jauh lebih jahat dari Iblis yang aslinya Jin, dan dalam bentuk demikian obsesi lamanya yang anti-Tuhan (Tidak menauhidkan) terwujud ke alam nyata. Dari sinilah semua petaka muncul di dunia.

Tipu daya selanjutnya adalah penguasaan tahap kedua setelah upayanya menyesatkan manusia berhasil dengan menguasai akal. Kemudian, Setan membangun benteng yang kuat untuk memenjarakan akal dan ruh manusia yang sejati. Ia menabiri manusia dengan benteng materi : keinginan, hasrat, kemaksiatan , kekayaan, kekuasaan yang semuanya kan membangkitkan karakter dasar bapaknya yaitu Iblis dalam bentuk kebodohan terselubung dengan kepandaian manusia yaitu ilmu pengetahuan.

Namun, untuk bisa menguasai senjata andalan manusia ini, ia harus menguasai konsep pengetahuan manusia. Ia harus menyesatkannya, sesesat-sesatnya, tetapi tidak terlalu mencolok. Maka melalui beberapa keturunannya, Iblis memerintahkan raja-raja, filosof, ilmuwan, seniman, dan anak cucu lainnya yang ateis untuk membuat konsep tentang pengetahuan. Lahirlah kemudian pandangan yang sepintas terlihat benar yaitu konsepsi manusia tentang alam semesta yang dikatakanya : alam semesta adalah kontinuum ruang-waktu, alam semesta adalah materi belaka.

Iblis berkata, “harus sesuatu yang lebih lemah dari aku, dan materi itu lemah, maka biarkan saja bahwa alam semesta sekadar materi belaka, ada begitu saja (karena aku tidak tahu bagaimana kejadiannya) , sehingga aku yang yang api dapat menjadi tuhan mereka yang mempercayainya.” Begitulah Iblis menanamkan pemikiran primordialnya kepada anak cucunya yang menjadi kaum ateis.

Dari sini kemudian lahir filosofi kehidupan seperti materialisme-ateisme, hedonistis, dan filosofi lainnya yang mengumbar hawa syahwat yang membawa manusia kepada kemusnahannya sendiri. Saling memakan, saling menjajah, saling cakar-cakaran, saling berzinah, dan lain-lainnya. Sumpah Iblis untuk menyesatkan anak cucu Adam mulai mewujud. Tetapi belum sepenuhnya terwujud karena ada para Rasul, Nabi, Wali, dan cerdik cendikia yang lebih sadar akan diri kemanusiaannya mereka memberikan petunjuk kepada manusia. Maka Iblis pun semakin menjadi-jadi kebenciannya. Ia pun kemudian menelusup kedalam semua aspek yang dimiliki manusia, namun sejatinya tidak ia miliki. Kemudian ia menuduh bahwa semua itu syair belaka, mimpi yang diada-adakannya (QS 21:5).

Ia menyusup ke dalam cinta kasih yang melahirkan kaum Nabi Luth dan berkembang menjadi hedonisme seksual lainnya :homo seksualitas, lesbianisme, dan seks bebas lahir dari sini.

Dan (ingatlah kisah) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat (nya)?"

Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)".(QS 27:54-55)

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS 2:221)

Sebagian mudah dikelabui dengan cinta model Iblis yang tanpa norma. Namun, sebagian lagi sulit ditipu. Maka iapun menggunakan akal pikiran para penyair, kaum gnostis, agamawan dan yang lainnya. Lahirlah syair-syair yang menyesatkan seolah menggambarkan bahwa “Dirinya adalah Pecinta Sejati Tuhan Yang Esa”. Ketika Iblis berhasil mengelabui manusia melalui jalur olah kata dengan cinta yang sebenarnya esensinya tidak ia ketahui, maka sebagian dari manusia pun tersesat (QS 26:224). Namun sebagian lagi tidak mudah dikelabui oleh tipu daya Iblis yang halus itu (QS 26:227).

Banyak sekali tipu daya yang dilakukan Iblis yang sudah menanamkan benih-benih setan ke dalam akal pikiran manusia, setelah konsepsi tentang pengetahuan alam semesta disusupi, setelah para penyair ditipu daya dengan olah kata, setelah para pecinta pun disesatkannya, nampaknya daya upayanya tidak pernah berhenti. Bahkan sejatinya tidak akan berhenti sampai akhir zaman seperti sumpahnya dulu. Dalam suka dan duka manusia, maka ia akan berusaha menyusup, dengan terang-terangan maupun tipu muslihat yang manusia pun tidak sadar kalau itu tipu muslihatnya. Maka iapun kemuidan menyusup kepada “kemanusiaan”, suatu konsep yang sejatinya ingin mengembalikan manusia ke jalan yang lurus. Namun, karena iblis sudah menguasai akal pikiran, konsep pengetahuan, olah kata dan bahasa, cinta dan birahi, maka ia dengan mudah menggunakan bala tentaranya itu untuk membelokkan konsepsi “kemanusiaan” menjadi konsepsi “ego” dirinya.

Dengan tertawa puas nampaknya ia sudah bisa membelokkan jalan manusia menuju Tuhan. Ia sudah mampu membuat rambu-rambu yang menyesatkan. Tapi, kenapa masih saja ada manusia yang beribadah dan menyembah-Nya. Apa yang salah? Ya, pasti ada yang salah pada sepak terjangnya yang menjerumuskan anak-anak Adam dan Hawa. Itulah qolbu yang ternyata tidak sepenuhnya ia kuasai. Disana ia tidak mampu menembus sesuatu yang sudah inheren ada pada manusia yakni hati nurani. Temannya dulu, si malaikat suka bersemayam disana membisik-bisiki manusia tentang dosa, tentang yang baik dan jahat, tentang kisah Iblis yang durhaka, dan tentang Tuhan yang menghukumnya.

Qolbu adalah jalan masuknya, tetapi ternyata juga benteng terakhir manusia untuk menghanguskannya, melumpuhkannya. Qolbu dengan senjata ampunan dan tobat, ketaqwaan, keimanan, istiqamah, ikhlas, ridha, cinta, tauhid dan yang lainnya ternyata susah sekali ditaklukkan dengan penuh. Tuhan berfirman,

Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (QS 15:41-42)

Waspadalah Terhadap Setan

“Jikalah kamu sudah tahu bahwa setan itu tidak pernah lupa kepadamu, maka janganlah kamu lupa kepada Allah, yang nasibmu ada didalam kekuasan-Nya”

Setan adalah musuh manusia semenjak Adam dan Hawa berada di dalam surga. Ingkarnya setannya yang dulunya berstatus Malaikat, ia menentang Allah SWT karena tidak tunduk dan sujud kepada Adam as. Perintah Tuhan kepadanya diabaikan. Setan mulai menggoda Nabi Adam as., bersama istrinya, Hawa. Keduanya terjebak, lalu masuk perangkap setan, memakan buah larangan yang sebelumnya telah diperingatkan oleh Allah SWT. Adam dan Hawa tak mampu menolak godaan setan. Maka terjadilah apa yang dikehendaki setan. Itulah permulaan manusia jatuh dalam pelukan setan.

Ketika telah turun ke dunia, setan memanfaatkan kepandaiannya menggoda anak-anak Adam. Ia berani bersumpah dihadapan Allah SWT akan terus menggoda anak cucu Adam sampai hari kiamat. Allah berfirman, “Hanya hamba-hamba-Ku yang lemah saja yang mampu engkau pengaruhi.”

Iblis pun mendapat kemurkaan Allah SWT maka ia pun terusir dari surga masuk ke dunia dengan kesombongannnya. Iblis berkata, “Aku akan menggoda manusia, dengan mendatangi mereka, dari muka, dari belakang, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan menemukan akan menemukan mereka sebagai orang yang bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17)

Dengan demikian, sejak dahulu kala setan telah menjadi musuh manusia yang sangat tajam godaannya. Setan mendatangi manusia dengan merupakan diri seperti perasaan dan hawa nafsu yang tumbuh dari dalam diri manusia sendiri. Setan mengintip kesempatan-kesempatan di saat nafsu jelek manusia itu tumbuh. Di saat nafu manusia nampak bergejolak, setan masuk dengan siasat liciknya untuk memperlancar kehendak nafsu jelek manusia. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui penjuru-penjuru yang sangat rawan. Ia mulai mengeluarkan jurus-jurusnya ketika manusia mulai lengah. Pada saat itu lah ia menghempas lawannya kelembah yang mereka senangi.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu. Sesungguhnya setan itu mengajak orang yang segolongan dengannya, agar bersama-sama menjadi penghuni neraka sa’ir” (QS. Fatir: 6)

Manusia yang lemah berhadapan dengan godaan setan, jangan lemah pula memohon perlindungan Allah SWT. Lemah memohon pertolongan Allah, seperti tidak tekun beribadah, terlalu mencintai dunia, malas beramal, kurang memperhatiokan kesucian jiwa dan keberhasilan hati, adalah kelemahan yang mudah bagi setan mencari peluang memasuki dirinya. Oleh karena itu, satu-satunya perisai adalah memperkokoh benteng iman dalam jiwa. Jangan memberi peluang sedikit pun untuk setan., karena setan pandai mempergunakan peluang. Salat, zikir, puasa, membaca Al-Qur’an, memelihara pergaulan, menuntut ilmu, bersedekah, mempergiat olah raga, dan banyak lagi yang lain, adalah senjata yang paling ampuh menghadapi serangan setan. Setan tidak mampu berhadapan dengan dengan serangan keimanan tersebut. Allah SWT mengingatkan dalam surat An-Nahl ayat 99, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya, atas orang-orang yang beriman, dan mereka bertawakal kepada Allah.”

Mereka yang bersungguh-sungguh menepati ibadahnya dengan cara yang benar, tabah dan tawakal, serta selalu menghiasi hati sanubarinya dengan iman dan terus-menerus zikir, Allah SWT menjamin baginya selamat dari godaan setan.

Abu Hazm bertanya, “Siapakah setan itu? mengapa ia ditakuti? Demi Allah, setan itu memang sudah pernah diikuti, akan tetapi mengikutinya sama sekali tidak berguna, dan setan tidak mampu memberi apapun.” Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari setan, demikian dikatakan oleh Abu SULAIMAN Ad Darany. Andaikata kamu tidak memohon perlindungan Allah, maka kamu selalu melihat setan di depanmu. Karena lindungan Allah itulah, aku tidak merasa gentar berhadapan dengan setan.

Menurut akidah Islam, setan itu termasuk arang gaib. Ia ada seperti yang disaksikan oleh Al-Qur’an. Ia tidak mampu merusak manusia, atau membunuh manusia secara fisik. Setan hanya mampu menggoda manusia yang lemah imannya. Kalaupun ia merusak atau membunuh, adalah melalui perbuatan dan perilaku manusia sendiri.

Berkata Al-Mirsy : Setan memang dapat melihat manusia dari arah yang manusia tidak dapat melihatnya. Sedangkan Allah dapat melihat makhluk-Nya, dari arah yang mereka tidak dapat melihat Allah. Hendaklah kalian selalu berlindung kepada Allah dari gangguan setan. Ketahuilah bahwa Allah itu bersifat Pemurah. Apabila manusia sudah tergoda oleh tipu daya setan, Allah SWT tetap menerima tobat dan istighfar hamba-hamba-Nya.”

Yang menciptakan Iblis adalah Allah, akan tetapi bukan untuk menenggelamkan manusia ke lembah kehinaan. Sebab bersamaan dengan itu Allah telah meletakkan benteng iman ke dalam hati manusia. Syekh Ahmad Athaillah menjelaskan hal ini :

“Dijadikan setan itu sebagai musuhmu, agar kamu menjadi bosan kepada setan itu, dan segera berlindung kepada-Nya. Allah tetap menggerakkan nafsumu, agar kamu tetap mendapat kepada-Nya.”

Ungkapan ini meminta perhatian manusia tentang dirinya. Setan memang selalu ada, dan terus berkeinginan menyesatkan anak ADAM. Allah SWT yang Maha Mengetahui hal ini telah meminta perhatian manusia agar tidak lalai. Kembalilah kepada Allah secepatnya, dan secara tertib mendatangi Allah dalam wujud ibadah rutin.

Seperti sudah dijelaskan sebelum ini bahwa setan hanya berbuat dalam batas menggoda dan menipu manusia, tidak lebih dari itu. Ia tidak merusak apalagi membunuh. Allah SWT berfirman dalam surat An-Naml ayat 99, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya, atas orang-orang yang beriman, dan mereka bertawakal kepada Allah.” Dalam Surat An-Naml ayat 100, “Sesungguhnya kekuatan setan hanyalah kepada orang yang mengambilnya sebagai pemimpin dan suka menyekutukan Allah.”

NABI Muhammad SAW mengajarkan kita bincang-bincang untuk terlindung dari godaan setan: Rabbi a’udzu bika min hamazatisy syaytin fga innahu yahzurun (Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari rong-rongan setan, karena sesungguhnya ia menyesatkan), atau selalu membaca “Ta’awudz” diikuti dengan membaca Mu’awwizatin (Al-Falaq DAN An-Nas)

die *Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam*
Syekh Ahmad Ataillah  

Hawa Nafsu Adalah Seseorang Ketika Dilepas Pemiliknya

Syaikh Abdul Qadir Jailani ra., berkata: Engkau tidak akan luput dari dua perkara: engkau jauh dari Allah SWT, atau engkau dekat dengan-Nya.

Maka jika engkau jauh dari-Nya, lalu apa arti kedudukan dan angan-anganmu akan anugerah yang berlimpah, nikmat dan kemuliaan yang langgeng, kecukupan yang besar, keselamatan, kekayaan dan ketenangan baik dl dunia maupun akhirat?

Bangkitlah dan segeralah terbang kepada Allah dengan dua sayap. Salah satunya: meninggalkan kelezatan dan syahwat baik yang haram maupun yang mubah, dan semua yang berbentuk kesenangan. Adapun yang satunya: adalah tahan dengan cobaan dan berbagai hal yang tidak menyenangkan, dan mencoba membebaskan diri dari makhluk dan hawa nafsu, ambisi dan angan-angan, baik yang duniawi maupun ukhrawi, sehingga mampu untuk sampai dan dekat kepada-Nya.

Maka ketika itu engkau akan mendapatkan semua yang engkau angan-angankan, dan engkau mendapatkan kemuliaan yang agung dan kemenangan yang besar.

Apabila engkau termasuk orang yang dekat dan sampai kepada-Nya, engkau termasuk orang yang mendapatkan perlindungan, bimbingan, cinta, dan kasih sayang; maka indahkanlah tingkah lakumu. Janganlah engkau tertipu dengan yang engkau miliki, sehingga eng¬kau lalai dalam mengabdi. Dan janganlah jelek adabmu dalam berkhidmat, janganlah engkau terus terlena dalam kebodohan, kezaliman dan ketergesa-gesaan, sebagaima¬na firman Allah SWT:...dan dipikullah amanat itu oleh ma¬nusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi amat bodoh (QS 33: 72), dan firman-Nya: Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa (QS 17: 11).

Peliharalah pandanganmu, jangan sampai berpaling kepada hal-hal yang sudah engkau tinggalkan yakni makhluk, hawa nafsu, kehendak, pilihan dan usaha-dan engkau tidak bisa sabar dan menerima ketika cobaan itu datang kepadamu. Di hadapan Allah, jadilah engkau laksana se¬buah bola yang sedang dimainkan oleh seorang pemain dengan tongkatnya, atau laksana mayat di tangan orang yang memandikannya, dan laksana anak balita di dalam kamar ibunya atau pengasuhnya.

Butakanlah matamu kepada selain Allah SWT sehingga engkau tidak melihat apa-apa kecuali Dia tak ada yang eksis, tak ada bahaya, manfaat, pemberian, dan penolakan. Anggaplah manusia dan hal-hal duniawi, pada saat gangguan dan cobaan menimpamu, sebagai cambuk-Nya yang dengannya Dia mencambukmu; dan ketika engkau mendapatkan kenikmatan dan anugerah, jadikanlah semua itu laksana tangan-Nya yang sedang menyuapimu.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

cisaat | August 26, 2008

Wahai dzat yang Maha Sabar berilah kabar gembira kepada hamba yang sabar
Segera datangkan pertolongan, kelapangan serta kemenangan
Orang yang sabar pasti akan mendapatkan sesuatu yang ia harapkan berkat kesabarannya
Waktu berubah menjadi cerah setelah gelap dan keruh
Maka bersabarlah atas segala cobaan dan ujian yang datang kepada dirimu serta tunggulah
Kelapangan, kesenangan pasti datang sebab qodar pastikan berubah
Jika kejadian dan peristiwa menggelapkan dan memburamkan dirimu
Maka tenangkan dirimu, berhati-hatilah janganlah engkau gundah gulana
Bersabarlah seperti sabarnya orang-orang yang bertakwa
Pasti Allah memberi hidayah pada dirimu
Dan sepertinya sabarnya orang-orang Abrar (baik) yang mana mereka tidak berubah ditengah-tengah segala perubahan
Ketahuilah bahwa alam ini berwatak
Selalu berubah dan menyusahkan pikirkanlah wahai saudaraku sedalam-dalamnya
Dan ikutilah raja-raja orang yang sholeh, pelita petunjuk
Dialah sebaik-baik ciptaan yang diciptakan dialam ini,
Muhammad sebaik-baik hambanya

cisaat | August 26, 2008

Sejak kecil, begitu akrab di telinga kita yang menyebut bahwa Allah itu gaib. Bahkan sering orang menegaskan; "terserah yang gaib-lah!", dan sebagainya. Konotasi gaib karena Allah tidak bisa dilihat secara kasat mata oleh kita dan kelak kegaiban Allah sejajar dengan kegaiban hal-hal gaib lain.

Padahal, tidak satu pun asma dan Asmaul Husna (nama-nama agung Allah) yang menyebut bahwa Allah itu gaib, tahu bersifat gaib, atau punya nama al Gaibu di Asmaul Husna. Tidak ada.

Kegaiban Allah itu muncul hanya karena kegelapan kosmos spiritual kita saja yang membuat diri kita terhalang melihat Allah Yang Maha Nyata, Maha Jelas, Maha Dzohir, Maha Batin, Maha Terang Benderang, dan pemilik segala maha.

Sesungguhnya, tak satu pun di jagad semesta ini yang bisa menutupi Allah. Kita mengatakan Allah itu gaib hanya karena menutup diri sendiri saja sehingga tidak bisa melihat Allah. Oleh karenanya Ibnu Athaillah as Sakandary dalam kitab Al-Hikam menegaskan: Bagaimana bisa terbayang ada sesuatu yang menutupi Allah, padahal Dia tampak pada segala sesuatu. Bagaimana bisa dibayangkan sesuatu menutupi Allah, sedangkan Allah tampak di setiap sesuatu. Bagaimana bisa dibayangkan sesuatu bisa menutupi Allah, padahal Allah itulah yang hadir untuk segala sesuatu. Bagaimana dapat dibayangkan jika sesuatu itu menutup Allah, sedang Allah sudah ada sebelum segala sesuatunya ada.

Bagaimana segala sesuatu menutup Allah, sedangkan Allah itu lebih jelas ketimbang segalanya. Dia adalah Yang Maha Esa. Tak ada yang menandingi dan menyamai-Nya. Dia lebih dekat dari urat nadi Anda sekali pun.

Wacana di atas mempertegas betapa Allah itu tidak gaib. Yang gaib justru hawa nafsu kita ini. Manakala kita tidak bisa melihat Allah di balik jagad semesta ini, berarti mata hati kita sedang dikaburkan untuk melihat nurullah (cahaya Allah). Sebab itu, kita harus melihat Allah di mana-mana, kapan saja tiada batas waktu terhingga.

Nurullah adalah awal dari muroqobah kita dan muraqobah adalah awal dan musyahadah (penyaksian Allah dalam jiwa), dan kelak baru mengenal Allah dalam arti yang sesungguhnya. Inilah ma'rifatullah.

 

 

Senin, 02 Agustus 2010

Renungan Hidup

Renungan Hidup

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp. 100.000, apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya beribadah pada Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan basketball diperpanjang waktu ekstranya namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-Qur'an namun betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang duduk di deretan paling belakang di masjid.

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namum betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Al-Qur'an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al-Qur'an.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan apa-apa, atau berbuat apa-apa.

Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan meyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada e-mail yang isinya tentang Kerajaan Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.

Pilihan Inti Sari Kehidupan

  1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tetapi tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu dalam kehidupan perkawinanmu.
  2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kau memimpikan orang seperti itu.
  3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti apa yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
  4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia, dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.
  5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
  6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu,tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.
  7. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampa kita mendapatkannya.
  8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itu pula.
  9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.
  10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak mengubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
  11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.
  12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.
  13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.
  14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.
  15. Cinta itu adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah dan romantika, tetapi masih tetap peduli padanya.
  16. Hal yang menyedihkan dalam hidup ialah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya.
  17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata.
  18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.
  19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu,tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.
  20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
  21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup, jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
  22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu!. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.
  23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.
  24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum, jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu
    menangis.

Jumat, 23 Juli 2010

KATA-KATA MUTIARA DAN NASEHAT HADHRATUS SYAIKH KH. SYUKRON MAKMUN

Pengantar:
Alhamdulillah, berkat nikmat yang Allah limpahkan, Ana dapat menyusun kumpulan kata-kata mutiara dan nasehat guru kita Hadratus Syaikh KH. Syukron Makmun hafidzahullah. Sebenarnya banyak nasehat dan kata mutiara beliau yang sudah Ana kumpulkan dalam satu diary khusus, akan tetapi diary itu hilang. Untung saja, masih ada diary lain yang masih ada. Mayoritas kata mutiara dan nasehat ini tertulis di agenda tahun 1988 yang diambil dari berbagai acara selama nyantri di Daarul Rahman, antara lain kuliah subuh, haflatul wada’, pelantikan IP3DR/IP4DR dan lain-lain, kemudian Ana klasifikasikan kepada beberapa kategori. Ana berharap teman-teman bisa menyempurnakan lebih banyak lagi, sehingga pesan Kyai kita dapat terus kita ingat, dan seakan kita merasa masih seperti di Daarul Rahmann dulu.

  Kategori ”GURU”
  1. Orang yang mengajarmu satu huruf yang diperlukan dalam agama adalah bapakmu dalam agamamu.
  2. Hormatmu pada gurumu lebih baik dari pada ilmu yang kau terima darinya
  3. Guru yang tidak berwibawa dan tidak dihormati karena tidak menghormati gurunya sewaktu menjadi murid
  4. Kalau ingin kaya janganlah jadi ustadz, jadilah pedagang.

 Kategori ”ILMU DAN ULAMA”
  1. Orang yang tidak berilmu, tidak dipentingkan orang
  2. Orang yang tidak berilmu, tidak diorangkan orang
  3. Ilmu itu bagai lautan, semakin kita dalami semakin dalam lautan itu
  4. Sesuatu, kalau diisi akan penuh, tapi ada yang tidak penuh-penuh kalau diisi, itulah otak
  5. Walaupun ilmu banyak, tapi tidak berakhlak maka akan dikutuk Allah
  6. Kalau kita belajar dengan sejarah maka akan menjadikan jiwa kita dinamis
  7. Sangat penting mempelajari sejarah agar berjiwa patriot
  8. Menuntut ilmu adalah ibadah qalbu
  9. Orang yang bisa baca, tapi tidak mau membaca maka ia sama dengan orang buta huruf
  10. Ilmu itu didapat dengan rajin membaca
  11. Jadikan ilmu sebagai kekasihmu
  12. Nilai 1 yang diuji lebih baik daripada nilai 10 yang tidak diuji
  13. Hargailah dirimu dengan ilmu dan akhlak
  14. Ijazahmu sesungguhnya adalah ilmu dan akhlakmu
  15. Ulama adalah cendikiawan intelektual Islam yang disiplin dengan ilmunya dan mengamalkannya
  16. Kyai diibaratkan penggembala kambing. Kalau penggembala kambing menjaga kambing dari srigala. Bagaimana jika penggembalanya sendiri mempunyai srigala? (khianat pada umat?)
  17. Kyai karbitan adalah orang Islam yang pakai peci, sorban, tasbih tapi ilmunya tidak ada.
  18. Kyai karbitan menyebutkan diri bahwa dia adalah kyai bukan oleh masyarakat
  19. Ulama akhirat adalah yang tujuannya mencari ridho Allah dan untuk kepentingan agama
  20. Ulama dunia adalah yang tujuannya mencari materil meskipun kerja/mengajarnya sama dengan ulama akhirat, tapi niatnya lain.

 Kategori ”PEMIMPIN dan ORGANISASI”
  1. Pimpinlah dirimu sebelum memimpin orang lain
  2. Pemimpin yang tidak mau turun pasti diturunkan
  3. Semua posisi adalah penting dan tidak ada yang terpenting dari lainnya
  4. Orang yang pernah berorganisasi hidupnya tak akan buta.
  5. Kalau biasa meremehkan orang, maka akan diremehkan orang.
  6. Jadilah orang yang siap dipimpin dan siap memimpin
  7. Disiplin dapat ditegakkan bukan dengan kekerasan
  8. Wibawa dengan kekerasan adalah wibawa semu
  9. Yang membuat seseorang tidak berwibawa adalah karena ia memerintah tapi tidak melaksanakan, kemudian melakukan kekerasan untuk mengembalikan wibawa.
  10. Jangan jadi pengurus seperti calo, memerintah anggota tapi ia tidak melaksanakan
  11. Negara yang zalim jika pemerintahannya kehilangan akal akan pendapat rakyat yang kontra maka jalan terakhirnya dengan kekejaman seperti yang terjadi pada namrudz terhadap Ibarhim

 Kategori ’PRINSIP HIDUP”
  1. Janganlah kau jadi manusia bermental kerupuk yang cepat layu oleh angin dan hujan
  2. Lauk yang paling enak adalah rasa lapar
  3. Jadilah Pegawai Allah
  4. Orang peragu tidak akan sukses
  5. Orang yang berbudi adalah orang yang tahu budi
  6. Sarjana adalah orang yang pandai membuat lapangan pekerjaan bagi orang lain, bukan orang yang pandai mencari pekerjaan kesana-kemari.
  7. Janganlah jadi orang yang kepalangtanggung
  8. Orang yang berani hidup melarat belum tentu melarat
  9. Orang yang terbiasa hidup sederhana akan siap menghadapi hidup mewah, tetapi orang yang terbiasa hidup mewah tidak siap hidup sederhana.
  10. Berbahagialah orang yang tahu kekurangannya
  11. Merasa sudah sempurna adalah berbahaya
  12. Janganlah lari dari persoalan
  13. Jadilah orang yang serba beres
  14. Yang punya niat dan tekad bulatlah yang akan berhasil
  15. Istirahat adalah berpindahnya seseorang dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain

Kategori ”CINTA”
  1. Cinta itu menyiksa, jika tidak siap tersiksa, jangan coba mencinta
  2. Orang yang tidak pernah bosan pada sesuatu, karena ia mencintai sesuatu itu
  3. Kalau kau mencintai sesuatu (ilmu) pasti kau mencarinya sampai ketemu
  4. Ilmu itu harus dijadikan kecintaannya/hobinya
  5. Korbankanlah apa yang kau cintai demi sesuatu yang lebih kau cintai (Allah SWT)

 Kategori ”PERGAULAN”
  1. Jangan jadi orang asing di negerinya sendiri
  2. Ke kandang kambing mengembik, ke kandang kerbau mengaum. Artinya: harus menyesuaikan diri.
  3. Maukah anak-anakku jadi seperti ayam? Nasib ayam jadi susah: Kalau orang kawin, ia mati, kalau ia mati ia juga ikut mati (selalu menjadi objek penderita)
  4. Jangan marah kalau tidak ditolong Allah, sudahkah menolong saudaranya?/muslim
  5. Jadilah seperti ikan hidup, meski hidup di lautan yang asin namun ia tetap tawar (istiqomah). Dan janganlah menjadi seperti ikan mati yang larut dibentuk orang, menjadi ikan asin, dendeng dan lain sebagainya
  6. Jika terjun ke suatu desa, di sana ada macannya, maka dekati dulu macannya baru bergaul dengan masyarakat.
  7. Kalau biasa meremehkan orang, maka akan diremehkan orang.
  8. Jangan melupakan jasa orang yang berjasa
  9. Hormatilah orang lain, maka kau akan dihormati
  10. Orang yang minta dihargai adalah orang yang tidak berharga

 Kategori ”PEMAHAMAN KEAGAMAAN”
  1. Pembaharuan Islam adalah mengembalikan agama kepada kebenarannya, bukan merubahnya
  2. Pembaharuan Agama dengan merubah agama berarti penggusuran agama
  3. Perintah Allah bukan sekedar untuk diseminarkan, tapi untuk diamalkan
  4. Membaca ilmu pengetahuan harus dikaitkan dengan nama Tuhanmu
  5. Suatu kewajiban pertama bagi santri adalah mendahulukan kebersihan batinnya dari akhlak yang tercela.
  6. Modernisasi tidak bertentangan dengan Islam. Yang bertentangan adalah westernisasi, seperti berpakaian minim
  7. Kalau wanita setengah telanjang adalah modern, maka kuda lebih modern?
  8. Pergaulan bebas wanita dan pria itu namanya pembinatangan manusia
  9. Modenisasi dalam Islam: Yes, Westernisasi dalam Islam: No.
  10. Modernisasi bukan penghancuran moral
  11. Perkembngan manusia harus sesuai dengan agama, bukan agama yang disesuaikan dengan hawa nafsu manusia.

KUMPULAN NASEHAT ISLAMI

WAHAI UMAT MANUSIA, PELUKLAH AGAMA ISLAM AGAR KALIAN SELAMAT DUNIA AKHERAT, SESUNGGUHNYA ISLAM ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN 

Dikutib melalui alamat ini (www.alsofwah.or.id)

kumpulan kalimat mutiara nasehat bijak islam – kata-kata nasehat bijaksana islami

kumpulan kalimat mutiara nasehat bijak islam – kata-kata nasehat bijaksana islami
===============================
Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi jangan minder dengan kekurangan kita. dan jangan iri dengan kelebihan orang. HARGAILAH DIRIMU APA ADANYA!!!
=========================
Berbicara cinta sejati, ketahuilah sesungguhnya segala ni’mat ini adalah dari Allah SWT, termasuk ni’mat mencintai lawan jenis, untuk itu gunakanlah bingkai yang dibenarkan oleh syariat, dan bingkai itu adalah pernikahan. Itulah sunnah yang sesungguhnya,
===============================
IKUTILAH JALAN KEBENARAN ITU JANGAN HIRAUKAN WALAUPUN SEDIKIT ORANG MENGIKUTINYA! JAUHKANLAH DIRIMU DARI JALAN JALAN KESESATAN DAN JANGANLAH TERPESONA DENGAN BANYAKNYA ORANG ORANG YANG MENEMPUH JALAN KEBINASAAN!
Sunnah itu bagaikan bahtera nabi nuh.Barangsiapa mengendarainya niscaya dia selamat dan barangsiapa terlambat dari bahtera tersebut maka dia akan tenggelam……
=============================
““Muslim sejati adalah yang tidak pernah menggunakan lisan dan tangannya untuk menyakiti sesama muslim.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash, Riyadhus Sholihin No. 222)”
=============================
“Ingatlah bahwa salah satu sifat muslim sejati adalah bersabar ketika ditimpa musibah dan bersyukur ketika mendapat nikmat. Subhanallah.. …”
—————————————————————————————————————-
kumpulan kalimat mutiara nasehat bijak islam – kata-kata nasehat bijaksana islami
—————————————————————————————————————-
“Orang yg sukses adlh mereka yg berhasil mengenali, menggali, & memompa seluruh potensi Diri, shg mampu menggagas karya2 & ide2 terbaik demi kemaslahatan Ummat.. Salam Ukhuwah dan Silaturahim… Keep Hamasah !!!”
===================
“Berilmu lah sebelum berbicara, bersikap, dan bertindak. Diam adalah kehati hatian. Perhatikan darimana kamu ambil kabar berita..periksa siapa yang berbicara, dan telitilah mana yang benar dan salah!”
=====================
“”Hati yg plg Allah kasihi ialah hati yg plg lembut t’hdp saudaranya, plg bersih dlm keykinannya & plg baik dlm agama” “salam ukhuwah untuk semua sahabatku…
=================================
“seorang mu’min itu jika dia melihat, maka dia mengambil pelajaran, jika dia diam maka dia berfikir, jika dia bicara maka dia mengingat, jika dia diberi sesuatu maka dia bersyukur dan jika dia dicoba maka dia bersabar.”
============================
“Tetaplah tegar!! Krna ALLAH akn slalu mjaga&mLindungimu.. jgn gentar,sdih,atau tkt jk km org b’iman..! Ktakan kbenaran wlw bnyk d hujat org..krn ssngghny bpegang pd islm d hr ini spt mmegang bara api..”
=========================
“Sesuatu akan lebih terasa berharga ketika kita sudah tidak memilikinya,,maka hargai dan jagalah segala yg kita miliki…
====================================
“jlnilah hidup ini penuh dgn takwa&tawakal wahai manusia, karena bumi ini hanya titipan ALLAH SWT semata. Tegakkanlah Jihad fi Sabilillah dgn keridhoan ALLAH SWT dimuka bumi ini, jgn ada p’pecahan shg b’cerai berai antar saudara muslim.
=======================
“Allah itu Tujuan kami… Rasulullah tauladan kami., Alquran Undang2 kami.. Jihad itu jalan hDp kami… Mati d Jalan Allah Cita2 kami t’Tinggi..”
—————————————————————————————————————-
kumpulan kalimat mutiara nasehat bijak islam – kata-kata nasehat bijaksana islami
—————————————————————————————————————-
Hai saudara-saudaraku umat muslim, mari kita kuatkan barisan kita. Kita tingkatkan keimanan kita. Kita tegakkan kalimat Allah dimuka bumi ini. Insya Allah, kita akan mendapat ridha-Nya.
Allahuakbar!!
=================
Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu di akhirat
================
Adalah mengagumkan ada seseorang pada hari ini yang mendakwahkan As-Sunnah . Dan lebih mengagumkan lagi adalah orang yang menerima dakwah As-Sunnah. (Irsyadus Sari Fi Syarhis Sunnah lil Barbahari,hal 248)
================
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran.” (Al Fatawa 4/149)
==========================
“Ya Allah.. Jikalau cinta ini adalah ketertawanan,tawanlah hatiku dengan cinta kepada-Mu,agar tidak ada lagi yg dapat menawan hatiku.. Jikalau rindu ini adalah rasa sakit,penuhilah rasa sakit ini dengan rindu kepada-Mu….”
====================
“Ssngguh’a sbnar-bnar prkataan adl Kitabullah&sbaik -baik ptnjuk adl ptnjuk Muhammad shallallahu ‘Alaihi Wasallam & sburuk-bruk prkara adl yg d ada2kan(dlm ibdah) krn stiap yg d ada2kan adl bid’ah & stiap bid’ah adl ssat & stiap kssatan brada d neraka”
=============
“Hai manusia,sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa.49:13″
=============
“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya sementara dan kepada Rabbul ‘Alamin, Allah Tabaraka Wa Ta’ala, kita semua akan kembali. Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian istiqamahlah!”
—————————————————————————————————————-
kumpulan kalimat mutiara nasehat bijak islam – kata-kata nasehat bijaksana islami
—————————————————————————————————————-
““Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”(HR. MUSLIM)”
============
“syaik Bakr Abu Zaid berkata: Hiasilah dirimu dengan etika etika jiwa berupa menjaga kehormatan diri, santun,sabar,rendah hati dalam menerima kebenaran, berprilaku tenang dalam bersikap dan berwibawa,teguh serta tawadhu””
============
cinta itu memang indah tapi apakah adil cinta itu hanya untuk manusia saja, sementara manusia itu tidak seberapa pengorbanan nya pada kita, apakah pantas cinta untuk sang pencipta kita taruh pada bagian kedua, pdhl jika bkn karna Nya, apakah mungkin kita bisa merasakan kenikmatan dunia ini,?? janganlah kita terlalu cinta pada manusia yang membuat kita lupa akan kecintaan allah pada kita,, nau’uzubillah

Rabu, 07 Juli 2010

30 kunci yang berada di tubuh manusia yaitu:

1. alif = hidung
2. ba" = mata
3. ta" = tempat mata(lubang tempat mata)
4. tsa" = bahu kanan
5. jim = bahu kiri
6. ha = tangan kanan
7. kha = tangan kiri
8. dal = telapak tangan kanan dan kiri
9. dzal = kepala dan rambut
10. ro" = rusuk kanan
11. zai = rusuk kiri
12. sin = dada kanan
13. syin = dada kiri
14. shod = pantat kanan
15. dhod = pantat kiri
16. tho" = hati
17. zho" = gigi
18. ain = paha kanan
19. ghoin = paha kiri
20. fa" = betis kanan
21. kof = betis kiri
22. kaf = kulit
23. lam = daging
24. mim = otak
25. nun = nur/cahaya
26. wau = telapak kaki kanan dan kiri
27. HA" = sungsum tulam
28. lam alif = manusia utuh
29. hamzah = memenuhi segala
30. ya" = mulut/manusia

Cara pemakaian:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ...................

contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan Hamzah

30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual.

Makna Filosofis Huruf Alif

Banyak perintah Allah. yang menganjurkan kita merenung __ tadabbur __ atau memikirkan makna-makna ayat Al-Qur’an. Diantaranya adalah : “Maka apakah mereka tidak memikirkan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”[1] Dalam firman di atas, Allah swt. tidak menggunakan kalimat berita __ kalam khabari __ yang langsung dapat ditangkap tanpa memerlukan pemikiran terlebih dahulu, akan tetapi justru menampilkaan kalimat dalam bentuk pertanyaan retorik, yaitu sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, namun memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh. Dalam firman tersebut sebenarnya Allah sedang memberikan dorongan kepada kita agar selalu berjuang untuk mencari mutiara-mutiara indah yang tersebar dalam lautan Al-Qur’an. Dalam firman tersebut seolah-olah Allah menegaskan : “Semestinya mereka itu berjuang sungguh-sungguh merenungkan makna-makna kandungan Al-Qur’an, dan janganlah hatinya dibiarkan terkunci”. Allah memberikan ancaman dengan neraka jahannam bagi hamba-hamba-Nya yang sebenarnya mempunyai hati, namun tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata, namun tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mempunyai telinga, namun tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu dipandang lalai oleh Allah dan diposisikan seperti binatang ternak yang tidak mampu berpikir karena memang tidak dikaruniai akal.[2]

Untuk menemukan mutiara-mutiara indah dari Al-Qur’an yang menjadi pedoman dalam mengarungi semudera kehidupan di alam fana ini, seharusnya kita banyak tadabbur sebagai salah satu wujud perjuangan dan bukti adanya apresiasi __ penghargaan __ yang tinggi terhadap kitab suci yang kita miliki. Begitu banyaknya mutiara-mutiara indah dalam lautan Al-Qur’an, maka satu kali kita berpikir akan menemukan satu jenis intan permata, dua kali kita berpikir akan menemukan jenis intan permata yang lain, dan demikian seterusnya. Dalam Al-Qur’an, Allah. menggambarkan banyaknya intan permata yang amat indah itu dengan bahasa metaforis atau pemisalan sebagai media pendidikan bagi hamba-hamba-Nya, agar terbiasa merenungkan kebesaran-Nya melalui firman-firman-Nya, seperti makna ayat berikut ini : “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”[3]

Apabila kita mencoba merenungkan makna-makna kandungan Al-Qur’an, dan memulai dari huruf-hurufnya yang dikenal dengan huruf hijaiyah, yang Al-Qur’an sendiri menyatakaan sebagai kitab suci yang diturunkan dengan bahasa Arab,[4] maka akan kita temukan intan permata yang sungguh sangat mengagumkan dan dapat dijadikan sarana dalam perjuangan meraih rido Allah. Dalam huruf hijaiyah, “Alif” berada pada urutan pertama yang dilambangkan dengan garis vertikal __ garis lurus dari atas ke bawah __ atau sama dengan angka satu dalam urutan nomor dan tidak dapat menerima harakat __ tanda baca __. Dan apabila Alif itu menerima harakat, maka statusnya berubah menjadi “Hamzah”.[5] Mengapa demikian, ada mutiara apa yang dapat ditemukan dalam huruf Alif itu?. Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita merenung dan berpikir dengan mempersandingkan makna filosofis huruf Alif dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Makna pertama. Alif merupakan satu-satunya huruf hijaiyah yang dilambangkan dengan garis vertikal dan berada pada urutan pertama dengan bentuk angka satu. Di sinilah, Alif lalu seirama dengan makna “Ahad” yang berarti satu, seperti yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Ikhlas, yang menegaskan kemurnian ke-Mahaesaan Allah.[6] Inilah essensi ajaran islam yaitu ajaran “tauhid”. Dengan demikian menjadi jelaslah, bahwa dalam huruf Alif mengandung informasi kepada kita, bahwasanya Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah dan Dia pula satu-satunya tempat kita memohon pertolongan.[7] Inilah yang disebut tauhid “Uluhiyah” Dan Dia pulalah satu-satunya yang menciptakan dan memelihara alam semesta beserta segala isinya.[8] Inilah yang disebut tauhid “Rububiyah”.[9] Keyakinan akan kemahaesaan Allah inilah yang mesti ditanamkan dengan mantap ke dalam lubuk hati kita, sehingga tidak gampang tumbang terhempas angin badai, dan tidak mudah tersesat jatuh ke lubang syirik yang oleh Allah dinyatakan sebagai dosa yang tidak diampuni.[10]

Makna ke-dua. Ketika huruf Alif kita posisikan sebagai makhluk ciptaan Allah, maka di atas Alif akan ditemukan titik agung yaitu sang Maha Pencipta Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, yang dalam bahasa Al-Qur’an dikenal dengan “Al-‘Aliyyu Al-‘Azhiimu” yang kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi,[11] rahmat-Nya melampaui segala sesuatu,[12] dan nur cahaya-Nya amat indah menerangi alam semesta.[13] Allah Maha Tingggi dan Maha Agung. Kita boleh berusaha meraih kedudukan yang tinggi, mendapatkan ilmu yang banyak, dan memperoleh sejuta macam harta kekayaan, akan tetapi semu itu berada dalam genggaman Allah,[14] keagungan ada di tangan-Nya dan kemuliaan adalah milik-Nya.[15] Dia bisa berbuat apa saja sesuai kehendak-Nya. Dia Maha Agung, yang keagungan-Nya tidak dapat dijangkau hanya dengan penglihatan mata jasmaniah, tetapi juga harus memfungsikan mata batiniah, sehingga kita dapat merasakan keagungan-Nya. Dalam perjalanan hidup, kita sudah terbiasa menggunakan mata fisik untuk melihat ke luar diri kita, sehingga sulit merasakan keagungan-Nya. Hal ini terjadi, karena mata hati kita telah menjadi buta. Allah berfirman : “ Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang berada dalam rongga dada”.[16] Untuk itulah Rasululla saw. mengingatkan kita agar senentiasa merenungkan ciptaan-Nya. Dan dalam perenungan yang menyelinap sampai ke relung hati itulah akan ditemukan keagungan-Nya.

Makna ke-tiga. Pada bagian teratas huruf Alif akan kita temukan titik atas, yang merupakan bagian yang terdekat dengan titik agung, yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut “Al-Muqarrabun”, yaitu orang-orang yang dekat kepada Allah,[17] mereka hidup dengan penuh kedamaian, dan kelak akan mendapatkan kenikmatan yang melimpah dalam surga sebagai wujud kasih sayang-Nya. Keadaan mereka digambarkan dalam kitab suci : “Mereka itulah orang-orang yang di dekatkan kepada Allah, mereka berada dalam surga kenikmatan,[18] berada di atas dipan yang bertah-tahkan emas dan permata, [19] dikelilingi anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, [20] dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan, dan didampingi bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik”.[21] Begitulah indahnya kenikmatan yang akan diraih Al-Muqarrabun, sehingga pantaslah kiranya kita merebut posisi itu dengan cara memantapkan tauhid, mengikhlaskan ibadah dan menyuburkan akhlak karimah.

Makna ke-empat. Pada bagian terbawah huruf Alif dapat kita temukan pula titik bawah yang merupakan bagian terjauh dengan titik agung, yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut “Asfala Safiliina”[22] yaitu orang-orang yang berada pada tingkat terbawah, karena telah hilang ciri utamanya sebagai manusia, yaitu akal. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Mujahid, Abu Al-‘Aliyah, Al-Hasan dan Ibnu Zaid ditegaskan, bahwa yang dimaksud dengan “Asfala Safiliina” adalah neraka.[23] Kemudian kita bertanya, siapa gerangan yang akan menempati posisi “Asfala Safiliina” itu?. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Allah dalam firman-Nya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga, tetaapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.[24]

Dalam riwayat yang lain dikemukakan bahwa firman Allah “Tsumma Radadnaahu Asfala Saafiliina” (QS.At-Tin [95] : 5) adalah kembali ke tingkat pikun, yaitu manusia yang akal sehatnya telah hilang atau kembali seperti bayi yang baru lahir. Demikianlah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Al-‘Ufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, Suatu ketika Rasulullah ditanya tentang kedudukan orang yang telah pikun. Pertanyaan tersebut dijawaab oleh Allah dengan menurunkan ayat selanjutnya, yaitu Al-Qur’an surat .At-Tin [95] ayat 6 yang menegaskan bahwa mereka yang beriman dan beramal saleh sebelum pikun __ hilang akalnya __ akan mendapat pahala yang tidak putus-putus.[25]

Hanya karena persoalan tidak berfungsinya akal sesuai kehendak Allah, manusia bisa disetarakan dengan seekor binatang ternak, bukan dalam kapasitasnya sebagai “bahan baku daging potong”, tetapi kesetaraan itu dalam sikap atau tingkah laku dan nilai kualitas hidup sebagai hamba Allah. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya, semestinya selalu bersyukur kepada-Nya, yang telah menciptakan kita dalam bentuk yang paling sempurna.[26] Manakala syukur itu diabaikan, ketahuilah, bahwa azab Allah akan datang.[27] Syukur itu harus ditampilkan dalam bentuk sikap patuh dan tunduk kepada-Nya, karena semua apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya dan semuanya tunduk kepada-Nya.[28] Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan kekuasaan-Nya tergambar dalam rekaman firman-Nya : “Katakanlah : Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.[29]

Rasulullah saw. memberikan sebuah nasehat yang sangat populer, agar kita selalu merenung atau berpikir : “Berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berpikir tentang zat Allah sang Maha Pencipta, karena kamu tidak akan sanggup mengetahui kadar-Nya”.[30]

Makna ke-lima. Ketika kita merenung kembali tentang huruf Alif yang tidak pernah menerima harakat, maka lalu kita ingat akan ke-Mahaan Allah yang tidak pernah menerima pemberian, karena Dia adalah Maha Pemberi[31] __ Al-Wahhab __ , Dia berdiri sendiri, tidak berhajat kepada yang lain __ Al-Qiyamu binafsih __ bahkan Dialah yang secara terus menerus mengurus makhluk-Nya.[32] Berkaitan dengan posisi Allah sebagai sang Maha Pemberi, terdapat sebuah kisah dari salah seorang sahabat Nabi bernama Abdullah ibnu Mas’ud. Dalam kisahnya beliau bercerita : “Apabila kami menegakkan ibadah salat bersama Nabi, kami membaca do’a yang artinya : ‘Semoga salam sejahtera dilimpahkan kepada Allah dari hamba-Nya, dan juga kepada si Fulan dan si Fulan’. Lalu Nabi bersabda dengan nada teguran : Janganlah kalian megucapkan : ‘Semoga salam sejahtera dilimpahkan kepada Allah, karena sesungguhnya Allah-lah pemilik dan pemberi salam sejahtera itu’. Tetapi ucapkanlah : ‘Segala kehormataana adalah kepunyaan Allah, demikian pula rahmat dan kebaikan itu. Salam sejahtera, rahmat Allah dan berkah-Nya semoga dilimpahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam sejahtera semoga juga dilimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang saleh’. Karena apabila kalian mengucapkan kalimat ini pasti mengenai setiap hamba di langit atau setiap hamba antara langit dan bumi. Seterusnya beliau mengumandangkan kalimat tauhid : ‘Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad utusn Allah’ . Kemudian beliau berdo’a dengan memilih salah satu do’a yang disukainya”.[33]

Kalau Allah itu Maha Pemberi, maka makhluk ciptaan-Nya itulah yang menerima pemberiaan-Nya. Allah memberi sesuatu kepada hamba-Nya tidak membutuhkan ucapan terima kasih apalagi imbalan, tetapi hamba itu wajib bersyukur kepada-Nya, karena ia sangat membutuhkan pemberian-Nya dan Dia telah memberinya tanpa pamrih. Manusia yang senantiasa menerima anugerah Allah, tetapi enggan untuk bersyukur, kita umpamakan dengan huruf Alif yang menerima tanda baca __ harakat __ , yang statusnya kemudian berubah menjadi “hamzah”. Kata “Hamzah” adalah bentuk tunggal dari kata “Hamazaatun”[34] yang berarti “godaan” atau “bisikan” yang dapat menjatuhkan manusia ke lembah dosa. Manusia akan selalu menjadi sasaran bujuk rayuan setan, sehingga Allah mengajarkan sebuah do’a kepada kita, agar terhindar dari godaan-godaan atau bisikan-bisikan __ “Hamazaatin” __ yang dilancarkan oleh setan. Do’a tersebut diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an yang artinya : “Dan katakanlah : Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan”.[35]

Menerima pemberian Allah adalah hak manusia, namun manusia wajib bersyukur kepada-Nya. Allah berjanji akan menambah nikmat karunia-Nya bagi setiap hamba-Nya yang bersyukur. Dan akan memberikan azab yang amat pedih bagi hamba-Nya yang kufur (tidak bersyukur).[36] Manusia yang tidak bersyukur atau kita sebut dengan kufur nikmat, berarti ia telah berkiblat kepada bujuk rayuan setan, sehingga jatuh ke dalam perbuatan nista dan dosa, akibatnya akan terlempar ke dalam jurang azab yang menghinakan. Renungkan firman Allah berikut ini : “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya,[37] Allah akan melaknatnya di dunia dan akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.[38] Manusia tidak akan pernah ada yang mampu menghindar dari azab-Nya, kecuali hanya karena rahmat dan kasihsayang-Nya.

Makna ke-enam. Kata “Alif” dalam bahasa Arab antara lain berarti “mengasihi” senada dengan arti “Rahmah”. Di sisinlah, kita dapat membuka tabir informasi dari huruf Alif, bahwa Allah memiliki sifat kasih sayang yaitu Rahman dan Rahim. Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu berakhlak dengan akhlak Allah Yang Maha Kasih dan Maha Sayang, yang kasih-Nya tiada pilih kasih dan sayang-Nya tiada pandang sayang. Demikianlah seharusnya dalam mengarungi kehidupan di alam fana ini, sehingga mampu menemukan kedamaian dan kasih sayang dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Makna ke-tujuh. Ketika kita memandang huruf Alif dengan pandangan yang jernih, akan kita temukan sisi kanan dan sisi kiri yang sama, lalu kita sandingkan temuan itu dengan bahasa Al-Qur’an, maka kita akan mampu menangkap mutiara-mutiara indah yang nilainya sangat tinggi. Sisi kanan dalam Al-Qur’an disebut dengan golongan kanan atau “Ashhabu Al-Yamin”,[39] yaitu hamba-hamba Allah yang taat dan patuh mengikuti ajaran-Nya. Dan sisi kiri dalam Al-Qur’an disebut dengan golongan kiri atau “Ashhabu Al-Syimal”,[40] yaitu hamba-hamba Allah yang mengingkari ajaran-Nya. Di sinilah nitralitas huruf Alif dapat kita temukan. Alif yang mempunyai arti “mengasihi”, maka sisi kanan dan sisi kiri, keduanya mendapatkan kucuran kasih. Ketika Alif kita terjemahkan dengan Allah, maka kasih Allah akan mengalir kepada manusia yang beriman __ golongan kanan __ dan juga mengalir kepada manusia yang kafir __ golongan kiri __ , semuanya menerima kasih-Nya sebagai wujud sifat rahman-Nya yang meliputi segala sesuatu.

Makna ke-delapan. Ketika huruf Alif disambung dengan huruf lain, maka hanya dapat disambung ke arah kanan sebagai lambang kebenaran dan keadilan. Allah swt. akan selalu berpihak kepada kebenaran dan keadilan, dan akan bertindak seadil-adilnya. Dia akan memberikan balasan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat baik dan berkiblat kepada kebenaran. Demikian pula sebaliknya, Allah akan memberikan balasan keburukan kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan keburukan dan berkiblat kepada kebatilan.

Huruf Alif yang hanya dapat disambung ke arah kanan sebagai lambang kebenaran dan keadilan, memberikan informasi kepada kita, bahwa pelakunya akan mendapatkan kenikmatan yang dapat mengantarkan menuju kebahagian yang sesungguhnya, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Demikian pula sebaliknya, huruf Alif yang tidak dapat disambung ke arah kiri sebagai lambang kejahatan, juga memberikan informasi kepada kita, bahwa pelakunya akan diganjar dengan azab yang penuh penderitaan. [41] Oleh karena itu, apabila kita masih cenderung ke arah kiri, atau mungkin masih berada di sebelah kiri, segeralah berbalik dan berlari menuju ke arah kanan untuk menikmati hidanngan Allah, yaitu hidayah,[42] sehingga rahmat kasih sayang-Nya, dua-duanya dapat kita raih, yaitu kasih sayang-Nya di masa kini dan masa mendatang sebagai kebahagiaan jangka panjang yang abadi di akhirat kelak.

Kalau rahmat Allah belum kita rasakan, bukan karena rahmat-Nya yang terbatas, akan tetapi karena kita sering kali menutup rahmat itu. Ada sebuah ilustrasi : Cahaya matahari dapat menerangi alam semesta. Tetapi dalam hutan yang lebat, cahayanya dapat tertutupi oleh lebatnya dedaunan, sehingga pepohonan di bawahnya tidak tertembus cahaya. Hal itu terjadi bukan karena keterbatasan cahaya matahari, tetapi karena lebatny dedaunan yang ada di hutan itu sendiri. Kalau kita belum merasakan adanya rahmat Allah, mungkin karena kita menutup diri, mungkin karena dosa-dosa kita masih selebat dedaunan di hutan, dan mungkin juga karena kita masih setia bergandengan dengan sifat-sifat hewani, sehingga rahmat kasih sayang-Nya tiada terasa. Mahabenar Allah lagi Mahaluas ilmu-Nya 

[1] QS. Muhammad [47] : 24, dan ayat yang senada QS. An-Nisa’ [4] : 82
[2] Baca QS. Al-A’raf [7] : 179
[3] QS. Luqman [31] : 27
[4] QS. Asy-Syu’ara’ [26] : 195, Yusuf [12] : 2, Thaha [20] : 113, Al-Ahqaf [46] : 12,- dll.
[5] Al-Munjid, Dar El-Masyriq, Beirut, Lebanon, cetakan ke-27, 1984, hal. 1
[6] Surat Al-Ikhlas termasuk salah satu surat dalam Al-Qur’an yang berada pada urutan ke-112, terdiri dari 4 ayat, yang artinya : 1. Katakanlah : Dialah Allah Yang Mahaesa, 2. Allah adalah tempat meminta, 3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.
[7] Senada dengan makna surat Al-Fatihah ayat 5, yang artinya : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.
[8] Senada dengan makna surat Al-Fatihah ayat 2, yang artinya : “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. Tuhan semesta alam adalah terjemahan dari “Rab Al-‘Aalamina”. Rab berarti : Tuhan yang dita’ati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Al-‘Aalamina berarti semesta alam yaitu semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai macam jenis, seperti alam manusia, alam binatang, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Semua itu adalah ciptaan Allah.
[9] Penjelasan tauhid Rububiyah dan Uluhiyah, dapat dibaca dalam sebuah kitab yang disusun oleh : Abdul Aziz El-Ruwais dan Ibrahim El-Sulaiman, berjudul “Muqarrar Al-Tauhid Wal-Fiqh Wa Al-Tahdib”, untuk kelas 1, Wizarah Al-Ma’arif Al-Mudiriyah Al-‘Ammah lil-Abhats wal-Manahij wal-Mawaddah Al-Ta’limiyah, Al-Mamlakah Al-‘Arabiah Al-Su’udiyah, cetakan ke-3, 1977 M / 1397 H, hal. 11 - 12
[10] QS. An-Nisa’ [4] : 116
[11] QS. Al-Baqarah [2] : 255, dikenal dengan ayat kursi.
[12] QS. Al-A’raf [7] : 156
[13] QS. An-Nur [24] : 35
[14] QS. Az-Zumar [39] : 67
[15] QS. Fathir [35] : 10
[16] QS. Al-Hajj [22] : 46
[17] QS. Waqi’ah [56] : 11
[18] QS. Waqi’ah [56] : 12
[19] QS. Waqi’ah [56] : 15
[20] QS. Waqi’ah [56] : 17 - 18
[21] QS. Waqi’ah [56] : 20 - 23
[22] QS. At-Tin [95] : 5
[23] Al-Imam Al-Fakhru Al-Razy, Tafsir Al-Kabir, jilid 11, Dar Ihya’ Al-Turats, Beirut, Lebanon, 2001 M / 1422 H, hal. 213,- dan Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, karya Imadu Al-Din Abu Al-Fida’ Ismail bin Katsir, Syirkah AlNur, Asia, tanpa tahun, hal. 527.
[24] QS. Al-A’raf [7] : 179
[25] KH.Qamaruddin Shalih, H.A.A. Dahlan, Drs. M.D. Dahlan, Asbabun Nuzul, CV. Diponegoro, Bandung, 11974, hal. 581- dan lihat pula karya Imam Al-Syuyuthi, Asbabbun-nuzul, Dar Al-Fajr Litturats, Kaero, 2002/1423, hal. 461.

[26] QS. At-Tin [95] : 1 - 8
[27] QS. Ibrahim [14] : 7
[28] QS. Al-Baqarah [2] : 116
[29] QS. Ali ‘Imran [3] : 26
[30] Hadis Nabi berbunyi :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ r : تَفَكَّرُوْا فِى الْخَلْقِ وَلاَ تَفَكّرُوْا فِى الْخَالِقِ فَاِنَّكُمْ لاَ تَقْدِرُوْنَ قَدْرَهُ.
[31] QS. Ali ‘Imran [3] : 8, Shad [38] : 35
[32] QS. Ali ‘Imran [3] : 2
[33] Mughirah bin Bardizbah, Shahih Al-Bukhari, jilid 1, Dar Al-Fikr, Beirut, tanpa tahun, hal. 203, dengan hadis yang berbunyi ;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : كُنَّا اِذَا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ r فِى الصَّلاَةِ قُلْنَا : اَلسَّلاَمُ عَلَى اللهِ مِنْ عِبَادِهِ اَلسَّلاَمُ عَلَى فَلاَنٍ وَفُلاَنٍ فَقَال النَّبِيُّ r لاَ تَقُوْلُوْا اَلسَّلاَمُ عَلَى اللهِ فَاِنَّ اللهَ هُوَ السَّلاَمُ وَلَكِنْ قُوْلُوْا : "اَلتَّحِيَّاتُ ِللهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَيِّبَاتُ، اّلسَّلاَمَ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ". فَاِنَّكُمْ اِذَا قُلْتُمْ اَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ فِى اسَّمَاءِ اَوْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ – وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. ثُمَّ يَتخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ اَعْجَبَهُ اِلَيْهِ فَيَدْعُوْا. رواه البخاري

[34] Al-Munjid, op cit, hal. 873
[35] QS. Al-Mu’min [23] : 97
[36] QS. Ibrahim [14] : 7
[37] Menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maksudnya adalah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridoi Allah dan tidak dibenarkan Rasul-Nya, seperti kufur, mendustakan kenabian dan sebagainya.
[38] QS. Al-Ahzab [33] : 57
[39] QS. Waqi’ah [56] : 27
[40] QS. Waqi’ah [56] : 41
[41] QS. Waqi’ah [56] : 27 - 55
[42] QS. Ash-Shaffat [37] : 99

Sabtu, 03 Juli 2010

Mutiara Kalbu

Mencintai Kekasih

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. (Ali bin Abi Thalib)

Sabar

Harta yang paling menguntungkan ialah SABAR. Teman yang paling akrab adalah AMAL. Pengawal peribadi yang paling waspada adalah DIAM. Bahasa yang paling manis adalah SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSYUK.

ilmu

 Pelajarilah Ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah khasyah, Menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah Tasbih, mencarinya adalah Jihad, Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah Shadaqah, menyerahkan kepada ahlinya adalah Taqarrub. Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian. – Muadz bin Jabal Radhiyyallahu anhu